Summit Attack Gede Pangrango (Part 1)
Malam yang dingin. Kakiku turun dari bus jurusan Bandung Jakarta dan mulai melangkah menyusuri jalan aspal yang basah sisa hujan malam itu di sebuah kota. Cianjur, begitu namanya. Kota yang kulihat tidak begitu ramai. Mungkin karena sudah larutnya malam dan sisa hujan malam itu.
“Lapar Komandan” Teriak seorang yang bernama Oelil itu padaku disusul pula oleh dua lainnya yang mengikuti. Sinchan dan Adek.
Aku celingukan sambil berjalan membawa ransel besar yang tidak ringan serta menarik banyak perhatian orang melihat ke sekitar mencari warung buat makan yang mungkin harganya bisa bersahabat dengan kantong.
Warung tenda khas Surabaya dengan soto ayamnya pun kudatangi. Lega. Ransel kuletakkan di samping bangku panjang. Ngeliatin menu dan megang-megang krupuk yang kiranya bisa mengganjal perutku.
“Soto ayam ama nasinya satu Pak!” seorang yang bernama Adek pertama kali memulai pesanan.
“Berapaan Pak?” aku menanyakan harga pada pedagang yang kelihatan masih muda itu.
“Sepuluh ribu Mas. Tanpa minum” ujarnya.
Aku melongo persis kebo bego. Kemudian mengumpat dalam hati. Brengsek!!! Seenaknya aja orang itu memberikan harga padaku. Dimana yang pasti ia memanfaatkan situasiku dengan gendongan ransel besar datang dari jauh, di malam yang udah sepi, lapar, dan pasti butuh makan.
Sekali lagi brengsek!!! Brengsek!!! Di depan kosanku aja harganya cuman 3000 perak. Brengsek!!! Dan yang pasti ini bukan masalah harga coy. Aku hanya paling benci dengan apa yang namanya dimanfaatkan dalam suatu situasi.
Dan akhirnya, dengan kesal aku dan yang lain pergi dari warung itu. Nggak peduli ama makanan yang udah dipesan. Peduli amat. Emangnya dia mau BERKELAHI?
Kembali berjalan menyusuri jalanan aspal Kota Cianjur yang basah. Berhenti di depan sebuah pasar, samping trotoar jalanan. Nasi uduk. Murah meriah dan penjualnya seorang ibu setengah baya yang baik. Minum air teh gratis. Duduk di atas trotoar sambil makan nasi uduk dan ngeliatin kendaraan yang kebetulan lewat serta ngobrolin harga angkutan umum ke Cipanas.
Dan singkat cerita, akhirnya tubuh ini kembali naik ke sebuah besi tua bermesin yang menuju ke arah Cipanas. Di dalamnya aku bertemu dengan seorang PA asal Sulawesi. Yang katanya baru tiba dari Cengkareng dan mau melakukan pendakian ke Gunung Salak. Sedikit ngobrol kesana kemari. Dan tentunya memberikan secuil tulisan alamat Astacala padanya setelah tangan yang kebingungan karena goyangan menulisnya bersama laju besi tua yang tidak tenang.
Pertigaan Cipanas. Kami berpisah di sana. Tujuanku Gunung Putri. Jalur pendakian Gunung Gede Pangrango. Malam yang sudah larut ini memperlihatkan padaku sepinya angkutan di jalan yang menuju titik start pendakianku itu.
“Badeh kamana Sep?” tanya seorang pedagang di sebuah warung kecil tempat Oelil membeli sebungkus Djarum Coklat.
“Gunung Putri Pak” sahut Oelil dengan sedikit senyumnya yang manis.
Sementara aku dan Sinchan iseng membuka peta dan duduk di pinggir jalan di malam itu sambil kulak-kulik GPS yang baru kemarin aku pelajari cara pemakaiannya.
Sebuah besi tua bermesin kosong tiba-tiba lewat. Tawar menawar pun terjadi. Dan hasilnya, kembali kusimpulkan manusia brengsek sialan yang suka memanfaatkan situasi. Harga yang tidak masuk akal dari harga standar.
Aku yang membawa duit iuran bareng menolak. Sesuai rencana operasional aja kayaknya kekurangan, apalagi ditombokin hanya buat ngasi sedekah buat manusia-manusia brengsek sialan. Buat apa. Toh aku bisa long march.
Aku pun berjalan. Diikuti oleh Oelil, Sinchan, dan Adek. Belum beberapa puluh meter, kembali sebuah besi tua bermesin lewat yang tampaknya di dalamnya ada beberapa manusia yang tujuannya sama denganku. Akhirnya aku pun naik. Setelah sebentar bernegosiasi dengan sang sopir dan tentunya manusia-manusia di dalamnya itu. Ya lumayan, bisa sedikit lebih murah walaupun lebih mahal dari perencanaan.
Di dalam besi tua itu, aku pun nanya ini itu ama manusia-manusia itu. Intinya sih nanyain Surat Izin mereka buat mendaki Gede Pangrango. Ternyata mereka punya lebih.
“Wah… aku bisa nebeng nih ama mereka”
Dengan sedikit maksa akupun minta ama mereka supaya bisa ikutan. Dan mereka pun mau walaupun dengan wajah cemberut yang jelas kelihatan tidak senang dan tidak rela.
“Seenaknya aja ini orang mau nebeng” mungkin begitu mereka mengumpat.
Tiba di titik start Gunung Putri, tampak tidak sedikit manusia-manusia yang ternyata juga punya tujuan sama. Manusia-manusia yang bersamaku yang menjanjikan bisa nebeng surat izin mereka pun mulai tak tampak batang hidungnya.
Brengsek!!! Kali ini manusia pelit dan ingkar janji yang kutemui.
Tapi, ya… sudahlah. Toh sesuai rencana, kalau aku akan tetap mendaki Gede dan Pangrango walaupun tanpa surat izin.
Angin malam dan rintiknya hujan yang kembali turun menemaniku menyusuri jalan setapak yang menuju ke sebuah rumah kecil di ujung jalan itu yang merupakan pos penjagaan.
Terlihat manusia-manusia yang beruntung di hari-hari sebelumnya bisa mendapatkan izin untuk naik dengan ransel besar dan kecil mulai meninggalkan pos itu untuk memulai perjalanan mereka.
Sedangkan aku? Walaupun dengan baik-baik telah bicara dengan petugas jaga pos itu, tetap saja dengan wajah tanpa senyum dan pidato peringatan segala tetek bengek peraturan di tempat itu melarangku untuk naik.
“Tak ada pilihan lain. Kalian harus balik ke Jakarta malam ini” serunya dengan tatapan kesal walaupun hati ini juga lebih kesal karena larangan itu. Dan lagi, ngapain nyuruh balik ke Jakarta. Emangnya aku datang dari Jakarta.
Kami pun sama-sama diam. Aku tetap duduk di beranda pos jaga itu. Sementara datang lagi satu rombongan pendaki, ngurus perijinan, dan kemudian berangkat memulai perjalanan mereka.
Adek yang terlihat begitu lelah tertidur di samping ransel di dalam payungan langit hitam malam itu. Sementara Sinchan duduk di sampingnya sambil menatapi samar-samar Puncak Gunung Gede di kegelapan malam. Aku ditemani Oelil masih tetap mencari cara negosiasi untuk bisa naik. Tetapi mereka masih bersikeras, dan cuek padaku yang tetap tinggal di beranda itu. Sambil menunggu pagi, tenda doome dibuka di halaman pos jaga itu. Peduli amat. Mataku ngantuk. Begitu juga teman-temanku.
Dan entah apa yang dibicarakan oleh Oelil bersama penjaga pos itu. Akhirnya perjalanan ini diizinkan juga walaupun dengan syarat dan bayar sepuluh ribu perak. Mungkin karena permintaan yang sedikit maksa disertai wajah sangar Si Oelil, petugas jaga pos itu menyerah. Atau mungkin karena rayuan Si Oelil yang rada-rada berbau homreng memikat petugas jaga itu. Ah, peduli amat juga. Yang penting nanti pagi aku bisa memulai perjalananku.
To Be Continued .....
Bandung, April 2004


Comments