« November 2006 | Main | January 2007 »

Hari Ibu (Merdeka Melaksanakan Dharma)

    Kasih Ibu kepada beta
    Tak terhingga sepanjang masa
    Hanya memberi tak harap kembali
    Bagai sang surya menyinari dunia

    Bait lagu diatas hanya secarik kata-kata yang mewaliki betapa kasih ibu itu tidak akan terbayarkan sampai kapan pun. Seperti kata pepatah, "Tangan yang menghayun buaian itu adalah tangan yang bakal menggetarkan dunia..." menunjukkan betapa pentingnya tugas seorang ibu di dunia ini.
    Aku tersadar ketika terbangun di pagi ini. Ternyata hari ini adalah hari Ibu. Dan aku tahu tak banyak yang bisa kulakukan untuk memperingatinya. Apalagi untuk membalas atas kasihnya. Di pagi yang masih sunyi, hanya sekedar untuk mengingatkan kita akan pentingnya seorang ibu, kucoba untuk berbagi mengenai sejarah tentang hari ini.

    * * *

    Pada suatu waktu, tepatnya tanggal 22 - 25 Desember 1928, atas prakarsa para perempuan pejuang pergerakan kemerdekaan, diselenggarakanlah Kongres Perempuan Indonesia yang pertama di Yogyakarta. Salah satu keputusannya adalah dibentuknya organisasi federasi yang mandiri bernama Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI). Melalui PPPI terjalin kesatuan semangat juang kaum perempuan untuk secara bersama-sama kaum lelaki berjuang meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka dan berjuang bersama-sama kaum perempuan untuk meningkatkan harkat dan martabat perempuan Indonesia menjadi perempuan yang maju.
    Tahun 1935 diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia II di Jakarta. Dalam kongres tersebut dibentuk Badan Kongres Perempuan Indonesia serta menetapkan fungsi utama Perempuan Indonesia sebagai Ibu Negara yang berkewajiban menumbuhkan dan mendidik generasi baru yang lebih menyadari dan lebih tebal rasa kebangsaannya.
    Pada Kongres Perempuan III di Bandung tahun 1938, Pemerintah mengkukuhkan bahwa Hari Ibu merupakan Hari Nasional dan bukan Hari Libur. Tahun 1946, Badan tersebut menjadi Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) yang sampai saat ini masih berkiprah sesuai aspirasi dan tuntutan zaman.
    Hari Ibu oleh Bangsa Indonesia diperingati untuk menghargai jasa-jasa perempuan sebagai seorang ibu serta jasa perempuan secara menyeluruh, baik sebagai ibu dan isteri maupun sebagai warga negara. Makna Hari Ibu sebagai sebagai Hari Kebangkitan, serta persatuan dan kesatuan perjuangan kaum perempuan yang tidak terpisahkan dari kebangkitan dan perjuangan bangsa.
    Semangat perjuangan kaum perempuan Indonesia tercermin dalam lambang Hari Ibu berupa setangkai bunga melati dengan kuntumnya yang menggambarkan : kasih sayang kodrati antara ibu dan anak; kesucian, kekuatan dan pengorbanan ibu; serta kesadaran dan keikhlasan berdarma bakti dalam pembangunan bangsa dan negara Indonesia.
    Semboyan pada Lambang Hari Ibu “Merdeka Melaksanakan Dharma” mengandung arti bahwa tercapainya persamaan kedudukan dan kaum laki-laki merupakan kemitrasejajaran yang perlu diwujudkan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara demi keutuhan, kemajuan dan kedamaian bagi bangsa Indonesia.

    * * *

    Ibu... Engkau adalah pemantik api kehidupanku. Kala jurang dan kepahitan hidup menelan diriku, engkaulah satu-satunya orang yang tetap sabar mendampingiku, memberikan petuah, mencarikan jalan keluar, mendinginkan hati dan pikiranku yang kalut. Kala air mata tak terbendung menahan sesak di dada, sesak tertekan dunia ini, kata-katamu, usapan tanganmu, dan rangkulanmu segera menghapus semuanya. Senyum mulai terbentuk di bibir. Maafkan aku ibu. Selama ini aku sering menyakiti hatimu, membuatmu menangis. Jika kesempatan mengizinkan, di lubuk hati kuberjanji, suatu saat nanti akan kubalas semua kebaikan dan pengorbananmu. Semampu yang dapat kulakukan. Semampu yang bisa kuberikan. Selamat Hari Ibu. Untuk ibuku tercinta, dan ibu-ibu lain di seluruh dunia.
    Thanks Mom. For your love, for your protect, for your attention, for your guidance, and for all. I miss you. I love you.

History Taken from DPU RI - Sejarah Hari Ibu
Bandung, Desember 2006

My New Domain

    Waow... Berhasil. Sekarang gw udah punya domain sendiri neh. Blog ini sekarang punya alamat baru di http://gejor.web.id, yang sebenarnya masih tetap blog di friendster juga, bukan ke blog lain (males pindah-pindah blog neh), cuman ngelink aja ke sana dengan domain ini.
    Buat teman-teman semuanya, atau siapa saja, yang punya blog atau pengen punya web site dengan domain sendiri, tips ini bisa dicoba. Lumayan kan punya domain sendiri? Gratis lagi. Info pertama kali didapat dari blog seorang teman yang ngelink ke blog temannya juga (thanks Man).
    Registrasi gratis ke depkominfo di register.net.id dan juga mencari domain name server ke penyedia jasa DNS di freedns.afraid.org yang juga gratis.
    Untuk lebih jelasnya, tinggal ikuti aja instruksi dari blog temannya teman gw berikut ini di http://blog.budiyono.net
    Hehehe... Silakan dicoba dan semoga bermanfaat!

Bandung, Desember 2006

Hoax

    Kita tentunya pernah mendapatkan message dari seorang teman, yang merupakan forward message. Isinya biasanya diawali dengan "Original message from ...". Terus di bawahnya juga ada lagi "Original message from ...". Jadi males kalau begitu. Hoax deh ini. Gw sebenarnya nggak suka membaca, mengomentari, apalagi ikut-ikutan memforward yang kayak beginian. Mending dihapus aja. Masa bodoh. Karena hampir dapat dipastikan semuanya merupakan hoax atau tipu-tipu dan kabar bohong yang menyesatkan.
    Banyak memang orang-orang yang sering ikut-ikutan untuk memforward message-message seperti ini. Karena berdasarkan sifatnya, hoax memang seperti itu. Memanfaatkan niat baik orang-orang yang dikirimi. Dan yang penting di sana terdapat anjuran untuk memforward message tersebut ke orang lain. Membuat lalu lintas data di internet ini menjadi padat, macet, penuh. Membahayakan jika disikapi tanpa menyelidikinya lebih lanjut. Dan biasanya isinya ga jauh-jauh dari berita yang tidak jelas sumbernya, bisa isu virus, minta bantuan, tawaran hadiah, mempererat persahabatan, penipuan, atau yang lainnya.
    Coba bayangkan, contoh kasus yang mempererat persahabatan. Misalnya ada message yang kurang lebih berisi seperti ini. "Persahabatan adalah bla bla bla bla ... dan seterusnya". Terakhir diikuti dengan kalimat "Kirimkan message ini minimal kepada 10 orang teman Anda. Jika tidak Anda lakukan, itu berarti Anda sudah mencoba melupakan teman-teman Anda."
    Bah... Aturan dari mana itu ya? Kalau gw tidak memperdulikannya, itu berarti gw telah melupakan teman-teman gw?
    Itu mungkin salah satu contoh yang tidak begitu keterlaluan. Bagaimana kalau hoax yang dikirim itu berisi pesan-pesan yang mengadu domba, memecah belah, membuat panik, menipu, atau malah bisa menimbulkan hal-hal yang fatal? Bisa kacau balau nih kita.
    Tapi anehnya, sampai saat ini, yang mengirimnya, yang menerimanya, yang udah kenal internet, yang udah melek ama internet sedemikian lama, masih banyak juga orang-orang atau teman-teman kita menuruti isi dari hoax tersebut. Entahlah. Apakah karena tidak tahu, ataukah hanya sekedar iseng. Tau lah.
    Menurut gw pribadi, sah-sah aja dan boleh-boleh aja kita saling mengingatkan. Bagus lagi kalau seperti itu. Tapi jika hal tersebut dilakukan dengan menyebarkan isu yang isinya tidak jelas dan bahkan menyesatkan, tentu itu tidak baik. Malah bisa berbahaya. Dan alangkah baiknya jika kita menerima message-message seperti itu, kita tidak langsung cepat-cepat memforwardnya lagi. Lebih baik kita selidiki dulu kebenarannya. Dipikirkan dengan jernih. Sejernih embun pagi di pucuk dedaunan. Wuih... Hahaha...
    Btw, jadi nggak enak juga gw nih, yang nggak membalas message-message seperti itu (terutama yang mengatakan, sudah melupakan teman jika nggak memforwardnya lagi). Sori ya friend, nggak gw bales. Bukannya berniat untuk melupakan teman. Hehehe... Dan bukan pula kenapa-kenapa. Pusing gw, nggak berguna dan menuh-menuhin inbox aja message-message ga jelas itu.
    Hehehe... Walaupun hoax rada basi bagi yang udah tau, gw harap semoga bisa diambil manfaatnya. Peace!!!

Bandung, Desember 2006

Menulis

    Aku tak tahu harus mulai dari mana
    Aku tak tahu harus menulis apa
    Di tanganku duka, di tanganku suka

    .....

    Menulis. Ngapain kita menulis? Apa yang harus kita tulis? Ketika pikiran dan otak yang lagi ga jelas malah nulis. Walaupun ingin menulis, tapi yang mau ditulis itu apa?
    Beugh..., menulis itu, katanya hanya membiarkan pikiran berkelana dan melayang. Pada apa yang kamu lihat. Pada apa yang kamu rasakan. Biarkan jari jemari menari di atas tuts-tuts keyboard komputer. Mendeskripsikan satu demi satu kata-kata di dalam otak. Menuangkan segala keluh kesah dan cerita di dalam hati. Pada selembar layar putih bersih berekstensi txt. Apapun itu, tuangkanlah.
    Tapi, ngomong-ngomong kenapa harus menulis? Padahal gw ga pernah sama sekali berkeinginan untuk menulis. Dan kamu juga sepertinya, mungkin.
    Suatu hari, ketika masih SMA, gw tidur-tiduran di kamar kakak gw yang cantique. Penuh boneka di sana. Gw liatin. Salah satu boneka itu terselip sebuah kertas, ada sebuah cerita kecil tentang boneka itu yang tertera. Kok bagus ya ceritanya.  Seperti ada sejarahnya. Kemudian, di sebuah kotak mungil dengan gemboknya yang juga mungil, tapi tidak terkunci, ada sebuah buku catatan kecil. Sebuah diary, pinky winky warnanya. Mulai gw buka, gw lihat, dan gw baca. Satu demi satu. Ada coretan-coretan di dalamnya. Ada puisi juga. Ada cerita juga. (Hehehe... I'm sorry Sis..., ga sengaja terbaca neh).
    Nah, dari kejadian itu, gw jadi berpikir, kayaknya keren nih klo gw bikin puisi. Seperti kakak gw. Akhirnya gw ambil secarik kertas, mo nulis puisi ceritanya. Kertas udah di hadapan, bolpen udah di tangan, beugh... akhirnya malah ga tau mo nulis apa. Pusing. Klo ga salah, gw menulis tentang bulan waktu itu. Cuman jadi aneh. Bisa-bisanya gw menulis tentang bulan. Entah dari mana tiba-tiba aja bisa bulan. Mungkin karena malam itu bulan bersinar terang di luar sana. Kalimat pertama yang kutulis berbunyi "bulan yang indah..." Abis itu ga tau lagi apa lanjutannya. Ya udah, akhirnya kertas itu pun dibuang. Tuing... Terbanglah si bulan ke tempat sampah. Bhuahahaha... Sori Lan...
    Ketika menjelang tidur, mata masih melek, dan pikiran pun melayang. Si bulan ternyata masih menggoda angan. Gw berkata-kata sendiri dalam hati. Merangkai kata demi kata. Layaknya gw bercerita, kepada diri sendiri. Ditemani sang bulan. "Klo semua yang gw katakan ini gw tulis kayaknya bagus", begitu gw pikir. Lalu gw pun beranjak, mencoba lagi untuk menulis. dan hampir sama, beugh... hilang semua apa yang mau ditulis ketika kertas dan bolpen udah di tangan. Gw coba ingat-ingat kembali, masa bodoh, yang penting gw tulis, akhirnya jadi juga. Puisi yang ga jelas.
    Puisi itu akhirnya gw simpan aja. Beberapa waktu kemudian,  gw lihat dan gw baca. Yach... kok jadi aneh. Gw tertawa sendiri membaca puisi itu. Tapi kemudian, gw buat lagi, yang baru. Sedangkan puisi lama itu gw edit-edit lagi. Begitu seterusnya, ketika SMA gw punya beberapa catatan dan tulisan-tulisan yang ga jelas. Beberapa teman sekelas gw juga punya. Dan gw inget banget, seorang teman minta gw dan teman-teman yang lain untuk menulis puisi di sebuah buku miliknya. Buat kenang-kenangan katanya. Setelah semuanya menulis, suatu hari buku itu gw pinjem, gw baca-baca tulisan temen-temen sekelas gw, ciah... semua punya gaya sendiri-sendiri. Menarik. Dan di mana pada suatu hari nanti, gw berpendapat semua orang itu sebenarnya punya keinginan dan cita rasa dalam hal menulis. Menulis apapun itu. Menulis program, scripts, TA, skripsi, atau penelitian lah contohnya. (Hehehe... Berat amat tulisannya.)
    Beranjak kuliah, gw mulai mencoba untuk memiliki buku harian. Bhuahahaha... Buku harian katanya. Udahlah... ga usah dibahas. Jadi malu. Tapi sah-sah saja bukan?
    Buku harian merangkap jadwal kegiatan. Isinya kejadian sehari-hari gw. Gw tulisin setiap malam tentang kejadian yang gw alamin tadi pagi sampai malam, dan apa yang harus gw lakukan besok pagi sampai malam berikutnya. Sebenarnya, ga selalu setiap hari. Cuman kalau lagi males, bisa jadi kejadian seminggu gw rangkum dan dicatat jadi satu, atau malah sebulan. Atau kadang dilewatkan sama sekali. Hehehe...
    Menulis yang kayak beginian ini (buku dan jadwal harian -red) sebenarnya udah diajarin ama pembina pramuka gw waktu SD dulu. Untuk melatih kerajinan, kemandirian, dan kedisiplinan. Pramuka gitu loh... Hahaha... Cuman ga pernah gw lakuin sepenuhnya. Buat apa? Apa bisa dijual? Begitu dulu mikirnya.
    Tulisan atau catatan harian yang gw tulis itu sederhana. Malah mungkin bisa dibilang ga berkelas. Ga jelas. Ga bermutu. Ga menarik lah kalau dibaca.
    Tapi, ternyata, yang sangat hebat, yang nggak disangka-sangka, ternyata catatan harian gw itu, yang dulu gw anggap nggak bermutu, ternyata menjadi sangat berharga jauh di tahun-tahun ke depannya. Bukan berharga dalam hal materi atau uang. Tapi berharga buat diri pribadi. Sekali lagi buat diri pribadi.
    Wuih...  ketika membaca kembali kejadian-kejadian dulu, dulu sekali, bertahun-tahun yang lalu, jadi tersenyum sendiri, atau jadi sedih sendiri. Terharu. Mengenang berbagai kejadian itu. Ternyata gw dulu begini, gw dulu begitu. Ama si ini, dan ama si itu. Sungguh kenangan yang sangat berharga. Andai saja itu nggak ditulis, mungkin sudah terlupakan. Sebuah catatan sejarah titipan nenek moyang. Hehehe...
    Dari catatan-catatan yang ditulis itu, apapun bentuknya, ternyata semua itu bisa menyalurkan emosi. Sedih ataupun senang. Tentang diri sendiri, tentang kamu, tentang dia, tentang mereka, atau tentang siapa saja. Ditulis tanpa beban, jujur, tanpa memikirkan tulisan itu bagus atau pun nggak. Ternyata ada banyak pelajaran yang bisa direnungkan dari semua pengalaman dan cerita itu. Yang bisa digunakan sebagai cermin pribadi, atau gambaran tentang orang-orang dan hal-hal di sekitar. Yang mungkin bisa dibagi kepada orang lain ketika mungkin mereka mengalami hal yang sama. Atau sebagai pelajaran jika suatu hari menghadapi hal yang sama.
    Dan dari catatan-catatan itu pula, kadang gw jadi berpikir, nanti buat apa ya? Apa itu berguna buat orang lain? Sepertinya ga lah ya. Apalagi tulisan sehari-hari yang cukup diketahui oleh diri sendiri. Tapi walaupun demikian, gw jadi ingin mengabadikannya. Sayang kalau dibuang. Mungkin akan gw simpan di sebuah acount storage di dunia maya. Di Geocities misalnya. Atau dibikinin domain dan hosting sendiri dalam waktu yang tak terbatas. User id dan passwordnya akan gw simpan di tempat tertentu atau gw berikan kepada seseorang suatu hari nanti sebelum gw mati. Siapa tahu ada yang berkeinginan mengetahui sejarah gw. Bhuahahaha... Tapi sah-sah saja bukan? Udahlah.
    Kembali lagi soal menulis. Lepas dari yang namanya catatan harian, klo gw sendiri, sebenarnya ga begitu berminat dengan yang namanya menulis, hanya sering ikut-ikutan. Ya seperti di atas, ngikut-ngikut kakak gw. Atau gaya-gayaan. Dan kalaupun menulis, gw pasti sering dipengaruhi oleh gaya tulisan dari tulisan-tulisan sebelumnya yang gw baca. Klo abis baca tulisan pujangga, gw nulisnya pasti jadi ikut-ikutan sok pujangga, sok puitis, sok romantis. Klo abis baca National Geographic, buletin atau tulisan-tulisan ilmiah, pasti gayanya ikut-ikutan ilmiah. Klo abis baca tulisan yang rada-rada slengean, gw malah terbawa nulis dengan gaya slengean. Kayak sekarang neh contohnya, malah pake kata "elu elu gw gw". Padahal sebelumnya nggak banget jika untuk menulis. Gw lebih senang dengan gaya yang formal, menyesuaikan dengan EYD. Bahasa yang lazim untuk berbagai kalangan. Cinta bahasa Indonesia. Apa mungkin karena lingkungan dan pengaruh orang-orang sekitar? Beugh... Ga jelas nih jati diri. Bodo ah. Teing... Lieur...
    Terakhir belajar tentang menulis di organisasi pecinta alam yang gw ikutin. Gw diajarin yang namanya teknik fotografi dan jurnalistik. Keduanya merupakan sebuah bentuk pendokumentasian. Dokumentasi berbagai peristiwa, perjalanan, atau pengalaman. Dan dua-duanya menarik. Cuman, karena ini tentang menulis, gw ungkit tentang jurnalistiknya aja. Selain itu, masih seputaran masa-masa kuliah, juga ada pelajaran jurnalistik pada semester 1, udah lama banget, di mata kuliah Bahasa indonesia. Tapi sayang nilai gw B euy untuk mata kuliah ini.
    Ada banyak jenis tulisan yang bisa kita buat. Berita atau reportase, essay, laporan, atau yang lainnya. Satu hal sederhana yang bisa digunakan dalam menulis (dalam hal ini menulis berita), adalah prinsip 5W + 1H. Apaan tuh? Hahahaha... itu artinya berita dikatakan lengkap ketika berita yang kita tulis telah memuat unsur what, where, when, who, why, dan how. Selanjutnya...
    Eh, tapi kok gw jadi berbicara teknis nih di sini ya? Padahal amateur. Hehehe... Sori dori mori. Kalau kayak gitu, mending langsung baca buku tentang menulis aja. Hahaha...
    Tapi begitulah, menulis adalah suatu hal yang baik.Tuangkan segala keluh kesahmu, sampaikan opini ataupun pendapatmu, paparkan setiap perjalanan, tuangkan segenap pengalaman, pada selembar kertas, pada sehelai notepad, dan ceritakanlah kepadaku, kepadanya, kepada semuanya. Semoga ceritamu ikut mewarnai suasana dunia.
    Hhhh... Kurang lebih mungkin seperti itulah.

Song Lyrics Taken from Iwan Fals - Lagu Cinta
Bandung, Oktober 2006