Kamu tahu motto hidupku? "Aku mau".
Dan dua kata sederhana ini telah membawaku melewati gemunung kesulitan.
"Aku tidak mampu" menyerah.
"Aku mau!" mendaki gunung itu.
Aku tipe orang yang penuh harapan, penuh semangat.
Stella, jagailah selalu api itu!
Jangan biarkan dia padam.
Buatlah aku selalu bergelora.
Biarkan aku bersinar, kumohon.
Jangan biarkan aku terlepas.
Panggil aku Kartini saja, itu namaku. Kami orang Jawa tidak punya nama keluarga. Kartini adalah sekaligus nama keluarga dan nama kecilku, dan "Raden Ajeng", dua kata ini menunjukkan gelar. Ketika aku memberikan alamatku... tentu tidak bisa hanya menulis Kartini, bukan?
Aku sungguh mengenal seorang yang kukagumi, perempuan modern dan independen, yang melangkah dengan percaya diri dalam hidupnya, ceria dan kuat, antusias dan punya komitmen, bekerja tidak hanya untuk masyarakat luas, bekerja untuk kebaikan sesamanya. Keinginanku untuk berada di zaman baru seperti itu sungguh terasa panas dan bergelora. Ya, aku bisa katakan, meski aku tak pernah mengalaminya di Hindia, namun aku amat ingin berbagi dengan saudari-saudari yang berada nun jauh di sana, di Barat.
Jika hukum yang berlaku mengizinkan, aku tak ingin apapun kecuali mengabdikan diriku secara utuh untuk melakukan hal-hal seperti yang telah dilakukan kaum perempuan di Eropa. Namun tradisi di sini sungguh teramat kuat mencengkeramku. Aku yakin, suatu hari nanti, cengkeraman itu akan merenggang, namun saat itu sungguh masih jauh, sangat jauh. Aku tahu saat itu akan tiba, tapi tidak tiga atau empat generasi setelahku! Oh, kamu tidak dapat mengerti dengan sepenuh hati dan jiwamu seperti apa rasanya menantikan zaman seperti itu, zaman baru, zamanmu. Sementara, pada saat yang sama, aku tak bisa lari dan masih diikat erat oleh hukum, kebiasaan, dan adat istiadat. Siang malam aku merenungkan, mempertimbangkan dengan hati-hati untuk bisa keluar dari moralitas dan adat istiadat di negeriku. Tapi, tradisi dunia Timur selama berabad-abad sangat kuat dan kokoh. Bisa saja aku mengobrak-abrik tradisi ini jika aku tidak terikat pada ikatan yang lain, ikatan terhadap orang-orang yang memberiku kehidupan di mana pada merekalah aku berhutang segalanya, segalanya. Tentu akan terlukalah hati mereka, jika mauku hanya memenuhi kehendak dan kerinduanku saja, meski semuanya itu sebenar-benarnya telah menjadi nafas hidupku.
* * *
Hhhhh, hanyalah sepenggal sebuah surat Kartini. Di hari ini, di kelahirannya. Kadang aku tak habis pikir untuk orang-orang yang memperingati hari ini. Para perempuan di kantor atau sekolahan berkebaya, memakai konde, dan berias secantik-cantiknya. Itukah harapan yang diinginkan dari semangat yang ada dalam sepenggal tulisan di atas? Tampil dari dandanan fisik?
Semoga saja bukan hanya dari itu. Semoga semangat sebagai seorang perempuan yang hebat selalu ada walaupun tanpa kebaya ataupun konde.
Untuk semua perempuan di Indonesia, and spesial for my lovely sister (tau nih, lagi kangen ama kakak), Selamat Hari Kartini. Semoga semangat itu selalu ada.
Taken from Surat-surat Kartini kepada Stella
Bandung, April 2007