Kebun Binatang Ragunan
Selasa, Natal di bulan desember ini, aku sebenarnya udah berencana untuk jalan ke Dago Pakar - Maribaya, Bandung. Hanya saja, karena ditahan-tahan ama anak-anak kosan, akhirnya batal. Jadilah hari itu aku mengunjungi saudara-saudara dan teman-teman kita di Kebun Binatang Ragunan. Kangen, sekian lama tidak pernah bersua.
Berangkat jam dua belas siang karena bangun paginya males-malesan. Bareng ama Astaka dan Sapi. Meluncur menuju selatan Jakarta. Banyak pohon di jalan menjelang Ragunan, jadi sejuk. Langit di atas sana juga sudah mulai mendung.
Makan siang di warung depan pintu masuk kebun binatang. Alamak... Harganya mahal, hampir dua kali lipat dari harga-harga sekitar kosanku. Tapi mau gimana lagi. Nggak bisa protes. Makanannya udah dimakan. Hiks...
Memasuki pintu masuk parkir motor utara Kebun Binatang Ragunan, ratusan motor dan mobil udah terlihat memenuhi tempat parkirnya. Ditambah dengan manusia-manusianya, sepertinya jumlahnya ribuan. Maklum, liburan akhir tahun ini mungkin menyebabkan warga Jakarta tumpah ruah ke tempat ini.
Binatang-binatang yang ada sebenarnya nggak begitu menarik perhatianku. Tujuanku ke tempat ini lebih cenderung dengan alasan "biar pernah" aja. Sekaligus hunting foto binatang. Cuman sayang, lensa EOS400Dku masih standar. Binatang-binatang yang mau diambil gambarnya sebagian besar posisinya jauh dari pagar pembatas. Jadi susah berekspresi. Tapi nggak pa pa. Yang penting man behind the gun nya OK. Bhuahaha.
Burung, reptil, monyet, harimau, dan singa kuambil gambarnya. Selain itu beberapa foto tentang suasana kebun binatang yang ramai serta foto-foto narsis Astaka dan Sapi juga mengisi memori kamera.
Satu hal yang yang selalu terjadi adalah, tetap aja aku yang jauh-jauh main ke Ragunan, ketemunya ama anak-anak sekampus juga, es te te telekom. Sebut saja dua orang teman sekelas Astaka dulu. Terus ketemu ama Kentang dan Husni yang juga lagi hunting foto di sana. Dan buset... Lensa yang mereka bawa membuatku minder euy.
Kebun binatangnya sendiri menurutku agak kurang enak. Kalau bau, udah pastilah ya. Secara banyak binatang yang tentu saja nggak tahu aturan harus boker dan pipis di mana. Terus yang membuat pemandangan menjadi terganggu adalah hadirnya para pedagang asongan ataupun yang menggelar dagangannya di lingkungan kebun binatang. Mataku rada sepet ngeliatnya. Bukan bermaksud nggak menghormati orang yang mau cari rejeki sih, cuman ya itu, mengganggu kenyamanan pengunjung. Apalagi sampah-sampahnya banyak juga yang berceceran. Atau kenapa pihak pengelola nggak menyediakan tempat buat mereka? Sejenis kantin atau tempat khusus lainnya? Tanya kenapa?
Selepas adzan azar berkumandang, sekitar jam empat sore, langit bertambah gelap. Hujan pun turun dengan lebatnya. Aku, Astaka, Sapi, Husni, beserta Kentang dan adiknya pun cabut. Untuk kemudian nongkrong di sebuah warung kopi menunggu hujan reda. Setelah cukup lama bertukar cerita tentang kabar masing-masing dan langit cerah kembali, kami pun berpisah.
Jakarta, Desember 2007

Comments