Kebun Binatang Ragunan

    Selasa, Natal di bulan desember ini, aku sebenarnya udah berencana untuk jalan ke Dago Pakar - Maribaya, Bandung. Hanya saja, karena ditahan-tahan ama anak-anak kosan, akhirnya batal. Jadilah hari itu aku mengunjungi saudara-saudara dan teman-teman kita di Kebun Binatang Ragunan. Kangen, sekian lama tidak pernah bersua.
    Berangkat jam dua belas siang karena bangun paginya males-malesan. Bareng ama Astaka dan Sapi. Meluncur menuju selatan Jakarta. Banyak pohon di jalan menjelang Ragunan, jadi sejuk. Langit di atas sana juga sudah mulai mendung.
    Makan siang di warung depan pintu masuk kebun binatang. Alamak... Harganya mahal, hampir dua kali lipat dari harga-harga sekitar kosanku. Tapi mau gimana lagi. Nggak bisa protes. Makanannya udah dimakan. Hiks...
    Memasuki pintu masuk parkir motor utara Kebun Binatang Ragunan, ratusan motor dan mobil udah terlihat memenuhi tempat parkirnya. Ditambah dengan manusia-manusianya, sepertinya jumlahnya ribuan. Maklum, liburan akhir tahun ini mungkin menyebabkan warga Jakarta tumpah ruah ke tempat ini.
    Binatang-binatang yang ada sebenarnya nggak begitu menarik perhatianku. Tujuanku ke tempat ini lebih cenderung dengan alasan "biar pernah" aja. Sekaligus hunting foto binatang. Cuman sayang, lensa EOS400Dku masih standar. Binatang-binatang yang mau diambil gambarnya sebagian besar posisinya jauh dari pagar pembatas. Jadi susah berekspresi. Tapi nggak pa pa. Yang penting man behind the gun nya OK. Bhuahaha.
    Burung, reptil, monyet, harimau, dan singa kuambil gambarnya. Selain itu beberapa foto tentang suasana kebun binatang yang ramai serta foto-foto narsis Astaka dan Sapi juga mengisi memori kamera.
    Satu hal yang yang selalu terjadi adalah, tetap aja aku yang jauh-jauh main ke Ragunan, ketemunya ama anak-anak sekampus juga, es te te telekom. Sebut saja dua orang teman sekelas Astaka dulu. Terus ketemu ama Kentang dan Husni yang juga lagi hunting foto di sana. Dan buset... Lensa yang mereka bawa membuatku minder euy.
    Kebun binatangnya sendiri menurutku agak kurang enak. Kalau bau, udah pastilah ya. Secara banyak binatang yang tentu saja nggak tahu aturan harus boker dan pipis di mana. Terus yang membuat pemandangan menjadi terganggu adalah hadirnya para pedagang asongan ataupun yang menggelar dagangannya di lingkungan kebun binatang. Mataku rada sepet ngeliatnya. Bukan bermaksud nggak menghormati orang yang mau cari rejeki sih, cuman ya itu, mengganggu kenyamanan pengunjung. Apalagi sampah-sampahnya banyak juga yang berceceran. Atau kenapa pihak pengelola nggak menyediakan tempat buat mereka? Sejenis kantin atau tempat khusus lainnya? Tanya kenapa?
    Selepas adzan azar berkumandang, sekitar jam empat sore, langit bertambah gelap. Hujan pun turun dengan lebatnya. Aku, Astaka, Sapi, Husni, beserta Kentang dan adiknya pun cabut. Untuk kemudian nongkrong di sebuah warung kopi menunggu hujan reda. Setelah cukup lama bertukar cerita tentang kabar masing-masing dan langit cerah kembali, kami pun berpisah.

Jakarta, Desember 2007

                            

Jalan-jalan ke Pulau Pramuka

Terlambat

    Pagi yang cerah. Alarm pada HPku telat berbunyi. Ternyata jam yang kuseting salah. Rencana berangkat ke Pulau Pramuka pagi ini yang direncanakan jam lima pagi akhirnya telat menjadi jam enam lewat. Berangkatnya pun hanya berdua. Aku bersama Ufo, teman satu kosanku di Jakarta, anak STT Telkom juga, dari Bali. Sedangkan teman-temanku lainnya yang mengatakan ingin ikut, ternyata ga jelas sampai hari H keberangkatan. Ya sudah, tanpa banyak menunggu, akhirnya berangkat berdua, setelah kemaren belanja seadanya untuk bekal perjalanan.
    Sampai di Muara Angke pukul tujuh pagi lewat. Menuju ke dermaga, alamak, kapal motor menuju Pulau Pramuka baru saja berangkat. Aku telat hanya beberapa menit. Kapal motor berikutnya jam satu siang.
    Sial. Aku dan Ufo hanya bisa saling menyalahkan karena bangun kesiangan.

Jalan-jalan di Muara Angke

    Akhirnya, daripada menghabiskan waktu hanya dengan menunggu keberangkatan kapal berikutnya, kami pun memutuskan untuk jalan-jalan di seputaran Muara Angke.
    Muara Angke merupakan sebuah dermaga yang menghubungkan Jakarta dengan pulau-pulau di Kep. Seribu. Juga merupakan kota nelayan dengan pasar ikan.
    Beberapa gambar tentang Muara Angke kuambil dari kamera digitalku yang LCDnya sudah rusak. Banyak pedagang yang menawarkan ikan segar kepadaku ketika aku melihat-lihat pasar.
    Masuk di komplek pusat jajanan Muara Angke, berjajar warung-warung lesehan yang menjual ikan laut bakar dan sejenisnya. Rata-rata sudah tutup karena saat itu bulan puasa. Kulihat satu warung ada orang yang sedang membakar ikan. Aku dan Ufo pun memutuskan untuk sarapan pagi ikan bakar di tempat itu.
    Lama kuhabiskan waktu di warung ikan bakar yang bernama Sentral itu. Sambil bertanya-tanya tentang Muara Angke dengan pemilik warung. Juga tidur-tiduran dan menghabiskan beberapa bekal yang kubawa.
    Menjelang tengah hari, kami pun beranjak meninggalkan warung tersebut menuju dermaga tempat kapal motor yang akan menuju Pulau Pramuka.

Berangkat

    Di dalam kapal motor, sebelum berangkat, memang terasa cukup gerah dan panas. Sedikit memusingkan dan membuat perut mual jika tidak terbiasa dengan goyangan kapal.
    Tepat jam satu siang, kapal pun berangkat. Angin berdesir menghapus keringat yang menetes. Melewati kapal-kapal lain yang parkir di dermaga. Di seberang timur, di wilayah Ancol, terlihat gedung-gedung bertingkat yang baru dibangun.
    Di tengah laut lepas, perasaan takutku mulai muncul karena gelombang mulai bertambah besar. Sedangkan Muara Angke di belakang sudah terlihat jauh. Di seberang, di sebelah kanan, pulau pertama yang dilewati adalah Pulau Bidadari. Sedangkan Pulau Pramuka masih jauh, salah satu pulau terjauh yang akan kami tuju.

Melewati Pulau Untung Jawa dan Pulau Rambut

    Satu jam lewat, kapal motor berlabuh di Pulau Untung Jawa. Nama pulau ini kuketahui karena aku sengaja pindah ke depan di samping nahkoda dan bertanya kepadanya. Sementara Ufo dan penumpang lainnya kebanyakan tertidur selama perjalanan.
    Di seberangnya lagi, kira-kira tidak lebih dari satu kilometer, ada Pulau Rambut. Sempat kubaca di sebuah artikel, kalau Pulau Rambut tidak berpenghuni. Hanya ada sesekali petugas Taman Nasinal yang berpatroli atau memantau tempat itu. Pulau Rambut merupakan tempat burung-burung di Kepulauan Seribu sekaligus rumah berbagai jenis ular dan reptil lainnya. Memang, ketika kulihat pulau itu, banyak burung beterbangan dan mencari makan di tengah laut. Dan mungkin kelak, pulau itu akan kukunjungi.

Mengarungi Laut Lepas Lagi

    Beranjak dari Pulau Untung Jawa, kapal motor pun melaju lagi menerjang ombak menuju jauh ke utara. Pulau Untung Jawa mulai samar tak terlihat. Pulau-pulau lain juga samar terlihat di belakang. Di depan belum terlihat ada pulau. Hatiku ciut juga di tengah lautan lepas ini.
    Kira-kira masih 2 jam lagi untuk sampai ke Pulau Pramuka, begitu kata nahkoda ketika kutanya. Kapal-kapal motor mulai jarang terlihat. Hanya satu dua perahu nelayan terlihat di kejauhan. Sempat pula berpapasan dengan sebuah kapal kilang minyak yang cukup besar. Melewati belakang kapal tersebut, kulihat nahkoda melakukkan manuver untuk mengendalikan kapal motor karena gelombang dan arus di belakang kapal kilang minyak terbentuk akibat haluannya yang cukup lebar. Mengerikan juga melihatnya.

Tiba di Pulau Pramuka

    Itu Pulau Pramuka. Tunjuk nahkoda kepadaku pada samar-samar pulau jauh di depan. Terlihat dua tower tegak berdiri. (BTS Telkomsel dan XL. Operator lain mana nih?).
    Mendekati Pulau Pramuka, terlewati juga sebuah pulau kecil. Namanya Pulau Air. Kata nahkoda, pulau tersebut merupakan pulau pribadi seorang pejabat tinggi masa orde baru. Terlihat di pinggir pantainya sebuah bangunan yang menyerupai vila.
    Mesin kapal mulai berhenti pelan-pelan. Kapal pun merapat. Aku pun melompat ke tepian dermaga tempat kapal menepi setelah mengucapkan terima kasih pada nahkoda.
    Pertama kali menginjakkan kaki di pulau itu, cukup menngesankan. Pantainya terlihat bersih. Airnya jernih kebiruan. Sepertinya memang dijaga untuk kegiatan berwisata. Kalu berenang di sini, sepertinya nyaman juga.
    Beranjak menuju ke dalam, terbentang pintu gerbang dengan bertuliskan "Selamat Datang di Pulau Pramuka Kepulauan Seribu". Tepat di depan dermaga, ada sebuah rumah Sakit Umum Kepulauan Seribu dan sebuah masjid yang cukup besar. Angin berdesir menyejukkan suasana yang panas.

Survey Mencari Tempat Bermalam

    Di samping rumah sakit, ada sebuah tempat penyewaan jasa snorkling. Di depannya juga tertulis Pusat Informasi Pulau Pramuka. Aku masuk ke sana dan bertanya mengenai informasi seputar Pulau Pramuka.
    Kata penjaganya, ada beberapa vila sebagai tempat bermalam dengan harga sekitar tiga ratus ribuan. Alamak, mahalnya, gumamku dalam hati. Aku juga bertanya-tanya mengenai kegiatan snorkling dan diving di tempat ini. Sepertinya cukup terjangkau untuk kegiatan sekelas itu. Dari 35.000 sampai 500.000, untuk peralatan dasar sampai yang komplit untuk diving.
    Setelah mengucapkan terima kasih, kami pun melihat-lihat vila yang dimaksud. Vila-vila tersebut memang tempatnya cukup nyaman dan indah. Di depan pantai, dinaungi beberapa pohon mangrove. Tapi sayang, kami hanya berdua. Sepertinya begitu berlebihan jika aku menyewa vila tersebut.
    Kemudian aku survey lebih ke dalam lagi. Kudapatkan sebuah rumah penduduk yang bisa kusewa. Harganya bisa kutawar. Cukup murah dibandingkan harga-harga vila dan jumlah orangnya tidak dibatasi. Tempatnya bersih dan nyaman walaupun pemandangan di sekitar vila kalah dengan vila-vila sebelumnya yang kulihat. Tapi tak mengapa, toh aku akan lebih menghabiskan waktu untuk jalan-jalan di pulau ini daripada menghabiskan waktu di rumah tempat bermalam.

Senja di Pulau Pramuka

    Setelah istirahat sejenak di rumah yang kami sewa, kami pun jalan-jalan di sepanjang pantai. Airnya jernih dengan pasirnya yang putih. Karang yang ada sepertinya sedikit. Mungkin lebih ke dalam terumbu karangnya banyak dan indah.
    Terlihat beberapa penduduk di sepanjang pantai yang sedang membibitkan pohon mangrove. Akan ditanam di pantai pulau pramuka, kata mereka ketika kutanya. Dan memang di sepanjang pantai, terutama di pantai timur Pulau Pramuka, terlihat pohon-pohon mangrove yang baru ditanam.
    Ibu-ibu dan beberapa anak kecil terlihat berkeliling pulau dengan mengendarai odong-odong, sejenis kendaraan sepeda motor dengan gerobak tarik. Kata seorang penduduk, memang begitulah rutinitas sore penduduk di Pulau Pramuka. Sungguh aneh menurutku, mengelilingi pulau setiap sore. Padahal kalau jalan kaki, mengelilingi pulau ini tidak sampai satu jam.
    Seperti halnya daerah pantai pada umumnya, hal menarik yang kita temui di Pulau Pramuka tentu saja adalah suasana matahari terbenam. Langit yang memerah dengan bayang-bayang matahari di laut memang sungguh indah. Buat yang hobi fotografi, tentu tak akan bosan mengekpresikan imajinasinya mengambil momen-momen seperti itu.

Ketika Malam Menjelang

    Setelah makan malam di sebuah warung, kami jalan-jalan lagi. Suasana tidak begitu ramai. Bisa dibilang sepi. Mungkin karena sebagian besar warga sedang sholat tarawih di masjid Pulau Pramuka ini. Di beberapa tempat, anak-anak kecil terlihat sedang bermain kembang api dan petasan, khas suasana bulan ramadhan.
    Di dermaga, hanya ada beberapa kapal motor dan juga ojek kapal sedang parkir. Beberapa orang juga terlihat sedang memancing. Di beberapa sudut kejauhan, satu dua pasang muda-mudi tampak sedang berduaan.
    Di dermaga ini, aku sempat ngobrol dengan ketua rw salah satu pulau pramuka. Dia bercerita cukup banyak mengenai pulau ini. Dan sempat menginterogasiku, dari bertanya ada perlu apa sampai pertanyaan apakah kami membawa barang-barang terlarang seperti tembakau aceh misalnya. Sialan.
    Tak begitu lama aku ngobrol dengan ketua rw tersebut. Ia akan berangkat ke Pulau Kelapa untuk ikut mengantar seorang warga yang akan melahirkan dan akan dibawa ke Jakarta malam itu.
    Malam makin larut, aku masih duduk di tepian dermaga. Menikmati suasana malam  dengan deburan kecil ombak di sepanjang pantai. Di seberang, lampu-lampu perumahan di Pulau Panggang dan sebuah keramba ikan terlihat kerlap-kerlip.
    Dan aku pun beranjak ketika mata mulai mengantuk.

Hari Berikutnya

    Aku bangun kesiangan. Rencana untuk snorkling pagi itu pun batal. Selain duit yang mulai menipis, aku juga enggan berenang di pantai yang sangat panas. Di pulau ini tidak ada ATM, jadinya duit benar-benar dikeluarkan sesuai perencanaan. Nggak bisa sembarangan menghamburkan duit jika yang dibawa dari Jakarta pas-pasan.
    Di bagian timur pulau ini, kami singgah di sebuah rumah tempat penyelamatan penyu. Ada banyak penyu berbagai ukuran di tempat itu. Juga bibit-bibit pepohonan yang berjajar rapi, terutama bibit mangrove.
    Seorang bapak-bapak terlihat sedang menyiram bibit-bibit pohon. Sekilas, kulihat wajahnya dengan sebuah foto peraih penghargaan kalpataru di dinding tembok, sama. Seperti dia Pak Salim, seperti yang tertulis pada piagam penghargaan itu.
    Aku mendekatinya, dan mulai membuka obrolan. Awal yang mengagetkan, begitu gumamku dalam hati ketika ia menyambutku dengan tidak ramah. Sepertinya ia tidak begitu suka dengan wisatawan. Aku pun membiarkan dia berbicara panjang lebar padaku tentang beberapa orang yang tidak mengerti tentang penyelamatan penyu dan penanaman mangrove. Juga tentang orang-orang yang mengaku dari LSM atau peneliti yang pernah datang ke tempat ke tempat itu. Sedangkan Ufo melihatku dari kejauhan, bingung melihatku seperti dimarahi oleh Pak Salim.
    Aku mulai memperkenalkan diri ketika ia terlihat mulai tenang dan menjadi ramah, serta senang dengan apa yang diceritakannya. Ia pun bercerita panjang lebar lagi. Tentang usahanya yang lebih dari lima tahun untuk menggerakkan penduduk untuk melakukan penanaman mangrove di sepanjang pantai. Tentang penyelamatan penyu-penyu di kepulauan Seribu. Sampai kerja samanya dengan Taman Nasional. Dan tentang kesadaran kita akan pentingnya penyelamatan lingkungan.
    Pak Salim mulai senang menjelaskan tentang pembibitan yang dilakukannya ketika aku banyak bertanya mengenai masalah tersebut. Diajaknya aku berkeliling di sekitar rumah tempat pembibitannya itu. Ditunjukkannya aku bibit-bibit yang seharusnya harganya tidak mahal. Beberapa bibit lavender, butun, dan yang lain tampak di sela-sela bibit mangrove. Bagaimana caranya membibitkan yang baik. Katanya, dia akan sangat bangga jika ada orang yang mau mengembangkan bibit-bibit tersebut. Cukup dengan menanamnya dan membiarkan dia hidup.
    Menjelang tengah hari, aku pun pamit kepadanya. Dibekali dua biji butun untuk kubawa pulang. Nati kamu tanam itu di kampusmu di Bandung. Atau di kosanmu di Jakarta. Kalau bisa dikembangkan. Begitu dia berpesan kepadaku.

Kembali Pulang

    Menjelang pukul satu siang, kami mulai berkemas. Mengembalikan kunci rumah dan berpamitan kepada pemiliknya. Di dermaga, kapal motor yang menuju Muara Angke baru saja tiba. Kira-kira menunggu lima belas menit, kapal pun berangkat. Meninggalkan Pulau Pramuka yang hanya sekejap aku kunjungi. Tapi cukup memeberikan banyak cerita dan pengalaman dalam hidupku. Dengan tempat dan orang-orang baru yang kutemui.

Jakarta, September 2007

Misi Jogja

Baru Tiba

    Akhir Mei 2006. Ketika kakiku baru melangkah turun keluar dari hutan pegunungan di Ciwidey, pulang dari mengisi kekosongan di akhir minggu, ketika sinyal GSM aktif kembali, ketika itu pula beberapa pesan masuk ke HPku mengabarkan tentang bencana gempa di Jogja.
    Tragedi yang menyedihkan. Ribuan orang dikabarkan meninggal. Termasuk ayah dari seorang teman karibku. Rumah-rumah, sekolah, gedung bertingkat, dan bangunan-bangunan lain ambruk. Jogja yang bersiaga karena ancaman letusan Gunung Merapi di utara, ternyata diserang tiba-tiba oleh gempa dari sisi selatan. Segalanya memang kehendak Sang Penguasa.
    Sesampainya di kampus, di Student Center. Kulihat telah berkumpul anak-anak Astacala, KSR, BEM, dan beberapa aktivis mahasiswa. Besok pagi akan berangkat ke Jogja sebagai sukarelawan. Aku saat itu yang belum ada kerjaan dan masih berstatus pengangguran pendatang baru pun menawarkan diri ikut serta. Begitu pula dua orang teman yang saat itu cuti dari kantornya untuk berlibur di Sekretariat Astacala. Niat berlibur mereka untuk naik gunung pun dibatalkan. Diganti dengan misi kemanusiaan ke Jogja.

Menuju Jogja

    Di hari keberangkatan, aku menyiapkan perlengkapan pribadi seadanya. Daypack kecil hitam kesayangan pun kuisi dengan barang-barang yang sekiranya nanti kubutuhkan. Sepasang pakaian ganti, raincoat, sandal gunung, peralatan mandi, kamera, buku catatan kecil, dan sebotol air mineral. Rencana berangkat pagi itu akhirnya tertunda menjadi sore hari. Berbagai perlengkapan ternyata banyak yang belum siap. Astacala, KSR, Bos BKA dari rektorat, dan dua orang sopir STT Telkom ditugaskan berangkat ke lapangan. Sedangkan BEM dan aktivis mahasiswa lainnya turun di Bandung dalam hal pencarian dana. Senja hari itu, dua mobil kampus yang dipenuhi dua belas sukarelawan serta tenda dan sembako itu pun berangkat menuju Jogja.
    Pagi berikutnya, singkat cerita, tiba di Jogja. Tempat pertama yang dituju adalah kampus UGM. Bergabung dengan anak-anak Arkeologi UGM. Land rover kesayangan seorang anak Astacala dari Jogja pun ikut menggabungkan diri membantu transportasi. Kordinasi sebentar dan sarapan, kemudian berangkat ke Dusun Dermo Jurang, Bantul. Dalam perjalanan, pemandangan rumah-rumah yang bertumbangan di pinggir jalan pun terlihat. Sungguh menyedihkan.

Mulai Bekerja

    Tiba di lokasi, di tempat yang telah direncanakan, waktu seharian dihabiskan hanya dengan kordinasi. Uh... Dalam situasi seperti ini, masih saja tetap susah dengan segala tetek bengek birokrasi. Sore menjelang malam, di hari pertama misi itu, posko tenda peleton didirikan, sembako didata, penduduk didata, genset dinyalakan, kabel-kabel listrik dipasangkan. Malam tiba, suasana makin gelap, dan ternyata cuaca di sana panas sekali. Gerah.

Butuh Listrik

    Putusnya saluran listrik karena gempa menyebabkan genset laris manis oleh penduduk. Beberapa rumah penduduk yang berlokasi di sekitar posko pun kebagian penerangan. Colokan listrik yang lumayan banyak pun dipenuhi dengan charger HP. Baik dari HP sukarelawan maupun penduduk sekitar. Bahkan sampai antri. Ternyata, dalam situasi bencana seperti ini, listrik memang sangat dibutuhkan untuk kelancaran komunikasi.
    Selain itu, dengan adanya listrik yang mengalir dari genset, sebuah televisi milik seorang penduduk pun diangkat dan diletakkan di depan posko. Jadilah malam itu depan posko ramai layaknya bioskop. Yang selama beberapa hari tidak ada hiburan, dengan adanya televisi, tontonan pun ada. Lumayan mengurangi beban mental penduduk yang masih trauma dengan gempa.

Di Sela-sela Misi

    Hari berikutnya, tambahan tim datang dari Bandung. Anak-anak sudah selesai ujian rupanya. Tenaga bertambah. Tugas pun dibagi lagi. Dapur umum, medis, pembagian sembako, dan pendirian tenda darurat. Para sukarelawan penuh semangat bersama penduduk. Di sela-sela kegiatan itu, banyak pula sukarelawan perempuan dari berbagai kampus di Jogja yang ikut turun serta.  Yang sebelumnya mungkin mereka berkutat di kamar kosnya yang bersih dan sejuk kini dengan sukarela meninggalkannya. Meluangkan waktu di sela-sela kuliah. Bercampur baur dengan cuaca panas di Bantul, dengan gempa-gempa kecil susulan yang masih terjadi, kotor, capek, lelah, dan demi menolong sesama. Tentu saja hal itu membuat kegiatan makin ramai dan berwarna. Beberapa cowok sukarelawan, baik dari Astacala maupun KSR pun tambah semangat. Cerita cinta pun terjalin di sela-sela misi kemanusiaan itu. Beugh... Dasar Tongky (Pantesan betah jadi sukarelawan lu Tong...).

Tugas Berganti

    Hari-hari berikutnya tugas mulai berkurang. Walaupun sebenarnya masih ada. Hanya saja tidak ada lagi mendirikan tenda. Tidak ada lagi pasang-pasang perlengkapan. Sebagian besar kegiatan lebih ke arah dapur umum, medis, dan pembagian sembako. Selain itu disempatkan pula membantu penduduk sekitar untuk membersihkan puing-puing reruntuhan rumah.

Pulang

    Di hari keempat, di kala aku dan teman-teman sedang beristirahat dan bersenda gurau di bawah tenda, HPku berbunyi. Ternyata ada panggilan dari sebuah perusahaan. Yang pasti, dua hari berikutnya aku sudah harus berada di Bandung.
    Akhirnya keesokan hari, dengan berat hati karena meninggalkan tugas dan teman-teman, aku ikut bersama mobil yang akan berbelanja logistik menuju ke Jogja. Turun di stasiun kereta api Tugu. Untuk selanjutnya berangkat menuju Bandung. Meninggalkan Jogja yang masih berbenah untuk bangkit dari bencana.

Some Data Taken from Yan Iwan Blog
Bandung, Juni 2006

Summit Attack Gede Pangrango (Part 3)

    Menuruni jalan berbatu, meninggalkan Puncak Gunung Gede yang baru saja memberikan senyum dan keindahannya padaku. Melalui jalur perjalanan menuju tempat yang menjadi langganan camp para pendaki, Kandang Badak, ternyata di jalur ini juga tidak kalah sedikit manusia-manusia yang ingin mencari senyum dan keindahan Gunung Gede.
    Pukul empat lewat tiga puluh menit, sore. Kandang Badak, telah dipenuhi oleh para pendaki. Aku, Oelil, Sinchan, dan Adek hanya istirahat sebentar di tempat itu. Aku mulai masuk ke tempat yang lebih dalam ke tengah hutan menyusuri jalan setapak kecil yang menuju Puncak Pangrango mencari tempat strategis untuk mendirikan shelter. Bivak didirikan, kayu dikumpulkan, makan malam disiapkan, dan wuah….. nikmatnya malam itu. Hujan tidak turun. Langit yang cerah dengan indahnya meperlihatkan malaikat bintang-bintang padaku. Api unggun menyala dengan girang menghangatkan tubuh yang lelah ini bersama satu nesting kacang ijo yang baru saja menjadi bubur membuat hati yang sombong ini sadar dan bersyukur betapa indah dan berarti nikmatnya anugerah Tuhan. Yang tentunya sungguh berbeda jika setiap suap kacang ijo yang aku makan saat itu dengan setiap suap kacang ijo yang aku makan dari warung indomie rebus di depan kampusku. Yang tentunya berbeda hangatnya tidur dalam sleeping bag berteman api unggun dan dinginnya malam dengan tidur di bawah selimut di atas kasur di dalam sekre atau di dalam kosku. Yang tentunya berbeda jiwa ini sebagai manusia yang kecil di di tengah hutan rimba dalam gelapnya malam dengan jiwa modern yang berkutat dengan gemerlapnya peradaban.
    Pagi-pagi sekali, pukul empat pagi lebih. Aku sengaja bangun lebih pagi walupun mata masih berat. Terpaksa dan harus. Untuk mengejar ketertinggalan waktu perjalanan. Hari ini, Puncak Pangrango harus sudah dicapai dan kembali turun melalui jalur Cibodas. Sarapan pagi yang cukup. Berbekal biskuit dan permen, nasi dan lima butir telor rebus, agar-agar, serta kacang ijo sisa semalam yang dimasukkan ke dalam botol air mineral, perjalanan menuju Puncak Pangrango pun dilaksanakan. Ransel-ransel dan barang-barang yang kiranya tidak diperlukan hari itu disembunyikan di kerimbunan semak-semak di bawah cerukan pohon besar. Beban berkurang, speed bertambah, semoga target hari ini tercapai, harapku.
    Sedikit berbeda dengan Gunung Gede, Gunung Pangrango dengan hutan yang lebat dan banyaknya pohon-pohon tumbang melintang di setiap jalur perjalanan terlihat sepi akan pendaki. Angin berdesir menyapu peluh yang menetes. Segarnya air pegunungan dalam pevles dan botol air mineral yang bercampur sunfilt serta hembusan-hembusan Djarum Coklat mengiringi sela-sela istirahat. Vegetasi-vegetasi puncak di ketinggian 3000 mdpl Puncak Pangrango bergoyang ditiup angin.
    Summit Attack. Puncak Pangrango, aku tiba. Tak ada kawah, tak ada tebing yang indah, dan tak ada bau belerang. Puncak Pangrango, hanya dikelilingi oleh pepohonan penghuni hutan. Puncak Pangrango, hanya berdiri sebuah tiang beton petunjuk ketinggian dan sebuah gubuk tanpa atap. Puncak Pangrango, hanya dataran yang tidak begitu luas dengan rumput dan bunga-bunga hutan yang dipayungi pepohonan.
    Tak begitu lama aku menghabiskan waktuku di Puncak Pangrango. Kaki ini pun kemudian menuruninya kembali. Dengan tersendat menahan otot paha yang ditarik. Pegal. Dan…, ternyata cepat juga. Kembali lagi ke Kandang Badak. Punggung ini pun juga kembali terbebani oleh ransel, walaupun beratnya telah berbeda dengan hari-hari kemarin. Berjalan dan terus berjalan. Kali ini terus menurun dan hujan. Hujan yang sungguh lebat. Walaupun tubuhku telah terbungkus oleh raincoat, tetap saja basah dan hawa dingin menyelimuti. Berjalan di jalan setapak yang berbatu. Cukup panjang. Melewati bebatuan yang mengalirkan air panas yang bersumber dari kawah Gunung Gede. Uap air yang mengepul dari kejauhan sudah kelihatan. Sedikit cuci muka, perjalanan pun dilanjutkan. Menyusuri sungai yang mengalir di sepanjang lembahan. Dan aku pun tiba di sebuah jalan yang bercabang. Terlihat papan petunjuk jalan tergantung di sebuah tiang yang sengaja dibuat, mungkin oleh petugas jaga wana. Satu menunjuk ke arah darimana aku datang, satu menunjuk ke Cibodas, dan satunya lagi menunjuk ke arah air terjun. Oelil, Sinchan, dan Adek tidak tertarik untuk melihat air terjun yang letaknya tidak begitu jauh, dan tidak pula begitu dekat. Ransel aku tinggalkan menuju air terjun. Berjalan sekitar tiga puluh menit. Tiga air terjun berjejer di tebing-tebing yang begitu indah. Pelangi terlihat di sela-sela deburan air yang membias dari tebing.
    Tapi, aku tidak lama menikmatinya karena berpacu dengan waktu. Ayunan kaki pun dilanjutkan lagi walaupun telapak kaki ini sudah mulai berteriak. Dan…, akhirnya sampai juga. Sebuah pos penjagaan yang lebih besar dari pos penjagaan yang pertama terlihat. Dengan cuek, aku, Oelil, Sinchan, dan Adek melewatinya begitu saja. Tanpa melapor, karena kami tahu, kami naik juga sebenarnya tidak jauh beda dengan tidak melapor.
    Di bawah, kebun raya Cibodas kulewati. Terlihat pula hamparan lapangan golf. Dan Puncak Pangrango yang berselimutkan kabut dengan hijaunya pepohonan di dalamnya. Sedangkan Puncak Gunung Gede, lebih memilih untuk bersembunyi dalam selimut kabut-kabut yang lebih tebal. Mungkin Puncak Gunung yang indah itu enggan untuk didatangi lagi. Atau mungkin ia menyimpan suatu misteri yang tak ingin diungkapkan, seperti diri ini yang tak akan pernah lepas dari yang namanya misteri jiwa dan kehidupan.

Bandung, April 2004

Summit Attack Gede Pangrango (Part 2)

            Pukul empat lewat tiga puluh menit. Di pagi yang dingin, berteman butiran-butiran embun, bulan dan bintang yang menampakkan keindahannya di sela-sela kepergian mendung hitam, serta lekukan-lekukan Puncak Gunung Gede dan runcingnya Puncak Pangrango, tenda doome pun dipacking lagi. Bergegas meninggalkan pos jaga itu tanpa ucapan terima kasih kepada sang penjaga pos. Berjalan di jalan setapak di sela-sela ladang penduduk. Mampir di sebuah saung kosong. Sebagian kembali melanjutkan mimpi, dan sebagian lagi membongkar logistik menyiapkan sarapan pagi.
            Selanjutnya, kaki ini pun kemudian melangkah lagi setelah perut yang kosong terisi logistik yang sejak kemarin bercokol terus di punggung serta perut terisi terkuras di cekukan tanah buatan tramontina bersama tisue putih ternoda yang menemaninya.
            Ladang-ladang yang penuh dengan bawang sepertinya tersenyum melihatku datang berjalan menyusuri mereka. Hutan rimba terlihat memanggil-manggil di kejauhan. Kabut-kabut putih di atas sana tak henti-hentinya bermain bersama puncak-puncak gunung sehingga tidak banyak acuan yang bisa kudapatkan untuk orientasi. Tapi di lain pihak, aku kurang suka akan perjalanan ini karena ternyata tidak sedikit manusia yang berjalan searah dan setujuan dengan perjalananku. Apalagi ditambah keributan dan bunyi hiasan leher anjing di tubuh mereka.
            Berjalan dan terus berjalan. Santai dan sering istirahat. Melewati ladang lalu memasuki hutan rimba. Jalan setapak mulus bagaikan jalan tol di dalam hutan untuk seorang yang berbet merah Astacala di lengan bajunya yang hitam, sedikit demi sedikit mulai memaksa nafas ini untuk berpacu. Tetapi sayang, jalan setapak yang kulalui ini masih saja terlihat plastik-plastik kecil berserakan yang sudah pasti asalnya tidak jatuh dari langit dan tentu saja berasal dari pendaki-pendaki sialan yang menamakan dirinya pecinta alam tetapi tidak tahu arti dari kata pecinta alam itu sendiri.
            Pukul dua belas siang. Flysheet dibuka seadanya. Waktunya makan siang ditemani rintiknya hujan di dalam rimba Gunung Gede, rimba yang begitu banyak ada manusia yang ingin mencicipi keindahannya tetapi dengan begitu saja tidak mau menghargai keindahan yang diberikan oleh rimba itu sendiri.
            Dua jam lebih berlalu begitu saja saat makan siang. Nyantai amat. Entah memang karena malas untuk gerak cepat atau lemahnya perintah sang komandan, perjalanan pun dilanjutkan. Alhasil, gelap menghadang dan sisa-sisa gerimis hujan pun menyambut dalam rimba. Lembah Surya Kencana yang menjadi tujuan untuk camp hari itu belum kesampaian. Kepala yang mulai berat, nafas yang tersengal karena bersaing berebut oksigen dengan penghuni hutan yang jumlahnya tidak sedikit, perut lapar yang hanya disogok oleh suapan-suapan biskuit kering.   
            Sedikit demi sedikit kaki yang terus mengayun itu tetap melangkah. Samar-samar mulai tercium bau belerang menyengat. Sudah dekat, begitu batinku. Jalan yang kutempuh mulai mendatar. Keluar dari lebatnya hutan rimba di gelapnya malam, terpampang di depanku samar-samar lembah berupa lapangan luas dengan ribuan edelweis yang menghampar. Angin bertiup kencang. Celingukan berkeliling di sela-sela edelweis mencari tempat yang nyaman untuk mendirikan doome. Setelah mendapatkan tempat yang dirasa nyaman, bagi-bagi tugas. Bangun shelter dan masak. Tanpa bikin api karena selain peraturan naik ke gunung itu yang melarang, juga tidak adanya kayu-kayu yang kelihatan bisa dibakar. Terpaksa tubuh ini akhirnya berteman dengan dingin.
            Dan entah kenapa malam itu perasaan jadi agak aneh. Seekor anjing datang ikut menemani. Di daerah yang sudah mendekati puncak gunung ini ada anjing? Aku bertanya dalam hati.
            “Hush!!! Hush!!!” Aku mengusirnya.
            Tapi anjing itu tidak mau pergi. Hanya beranjak tidak jauh dari tempat berdirinya doome dan flysheet-flysheet yang membentang. Dan anjing itu malah tiduran di samping tumpukan batu-batu dan melihat kami dengan tatapan yang tidak jelas seolah kami ini tontonan baginya.
            Wuush… Sialan!!! Aku jadi merinding. Jadi teringat cerita Oelil waktu naik Rinjani dimana ia nggak nyadar mendirikan camp di samping tumpukan batu yang ternyata esok paginya baru diketahui kalau tempat itu adalah sebuah makam.
            Ah, masa bodoh. Peduli amat ama anjing itu. Toh aku nggak punya niat buruk. Buru-buru aku masuk doome setelah makan dan masak agar-agar buat besok pagi. Dan ternyata, anjing itulah yang punya niat buruk, yang sedikit demi sedikit mendekati logistik yang berserakan. Mau maling ternyata itu anjing. Ya udah, dari pada kehilangan, logistik pun kembali masuk ke dalam ransel.
            Uahemmm…!!! Dengan mata masih mengantuk aku keluar doome. Hamparan padang rumput yang luas dengan ribuan edelweis yang indah serta latar puncakan-puncakan gunung kecil di belakangnya terpampang di depanku. Mentari pagi bersinar terang. Kesempatan. Pakaian lapanganku yang basah kuhamparkan di atas bebatuan yang mulai memanas. Sementara kegiatan pagi itu berjalan lambat. Padahal, target hari ini, sore harinya sudah harus berada di Puncak Pangrango.
            Siang pun menjelang. Dan aku baru melanjutkan perjalananku. Anjing yang kemarin malam menemani entah kemana. Sudah pergi atau mungkin sudah berpindah ke camp pendaki lain untuk berburu logistik.
            Menyusuri Lembah Surya Kencana yang indah dengan ribuan edelweis, bertemu dengan jalur pendakian dari Sukabumi, perjalanan mulai menanjak di sela bebatuan besar dan kecil yang ditumbuhi pohon-pohon kerdil dan gersang serta bau belerang yang semakin menyengat. Dan tentunya di hari yang merupakan hari libur itu, waktu aku melakukan perjalananku, cukup banyak juga manusia yang memenuhi gunung.
            “Astacala…..!!!” teriakku dalam hati.
            Summit Attack. Puncak Gunung Gede sudah berada di bawah telapak kakiku. Berdiri di bibir kawah dengan tebing-tebing indah memanjang yang mengelilinginya. Kuhirup udara yang mengalir bebas. Langit biru dengan awan putih terpampang di sekelililingku. Angin bertiup menghapuskan keringat yang menetes dari letihnya perjalanan yang mendaki. Sementara dari kawah di bawah sana mengepulkan asap-asap dan mengeluarkan bau belerang yang menyengat. Dan alam yang indah itu rupanya sedikit pelit untuk memperlihatkan Puncak Gunung Pangrango yang ada di seberang sana. Kabut-kabut silih berganti datang dan pergi menyelimuti puncak gunung itu.
            Bendera merah Astacala terbentang, senyum manis terpampang, serta tampang-tampang beruk yang riang pun mulai dikeluarkan. Kamera digital yang selalu menemaniku dengan setia tetap bersedia mengabadikan setiap perjalanan walaupun sang energi si baterai charger sudah tersendat-sendat untuk membantunya.
            Pukul satu lewat tiga puluh menit, siang. Hati ini mulai tak yakin akan bisa tiba di Puncak Pangrango sore ini.
            “Ayo…!!! Kita jalan lagi. Nggak usah target tempat” ujarku memberi keputusan pada yang lain.

To Be Continued .....
Bandung, April 2004

Summit Attack Gede Pangrango (Part 1)

            Malam yang dingin. Kakiku turun dari bus jurusan Bandung Jakarta dan mulai melangkah menyusuri jalan aspal yang basah sisa hujan malam itu di sebuah kota. Cianjur, begitu namanya. Kota yang kulihat tidak begitu ramai. Mungkin karena sudah larutnya malam dan sisa hujan malam itu.
            “Lapar Komandan” Teriak seorang yang bernama Oelil itu padaku disusul pula oleh dua lainnya yang mengikuti. Sinchan dan Adek.
            Aku celingukan sambil berjalan membawa ransel besar yang tidak ringan serta menarik banyak perhatian orang melihat ke sekitar mencari warung buat makan yang mungkin harganya bisa bersahabat dengan kantong.
            Warung tenda khas Surabaya dengan soto ayamnya pun kudatangi. Lega. Ransel kuletakkan di samping bangku panjang. Ngeliatin menu dan megang-megang krupuk yang kiranya bisa mengganjal perutku.
            “Soto ayam ama nasinya satu Pak!” seorang yang bernama Adek pertama kali memulai pesanan.
            “Berapaan Pak?” aku menanyakan harga pada pedagang yang kelihatan masih muda itu.
            “Sepuluh ribu Mas. Tanpa minum” ujarnya.
           Aku melongo persis kebo bego. Kemudian mengumpat dalam hati. Brengsek!!! Seenaknya aja orang itu memberikan harga padaku. Dimana yang pasti ia memanfaatkan situasiku dengan gendongan ransel besar datang dari jauh, di malam yang udah sepi, lapar, dan pasti butuh makan.
            Sekali lagi brengsek!!! Brengsek!!! Di depan kosanku aja harganya cuman 3000 perak. Brengsek!!! Dan yang pasti ini bukan masalah harga coy. Aku hanya paling benci dengan apa yang namanya dimanfaatkan dalam suatu situasi.
            Dan akhirnya, dengan kesal aku dan yang lain pergi dari warung itu. Nggak peduli ama makanan yang udah dipesan. Peduli amat. Emangnya dia mau BERKELAHI?
            Kembali berjalan menyusuri jalanan aspal Kota Cianjur yang basah. Berhenti di depan sebuah pasar, samping trotoar jalanan. Nasi uduk. Murah meriah dan penjualnya seorang ibu setengah baya yang baik. Minum air teh gratis. Duduk di atas trotoar sambil makan nasi uduk dan ngeliatin kendaraan yang kebetulan lewat serta ngobrolin harga angkutan umum ke Cipanas.
            Dan singkat cerita, akhirnya tubuh ini kembali naik ke sebuah besi tua bermesin yang menuju ke arah Cipanas. Di dalamnya aku bertemu dengan seorang PA asal Sulawesi. Yang katanya baru tiba dari Cengkareng dan mau melakukan pendakian ke Gunung Salak. Sedikit ngobrol kesana kemari. Dan tentunya memberikan secuil tulisan alamat Astacala padanya setelah tangan yang kebingungan karena goyangan menulisnya bersama laju besi tua yang tidak tenang.
            Pertigaan Cipanas. Kami berpisah di sana. Tujuanku Gunung Putri. Jalur pendakian Gunung Gede Pangrango. Malam yang sudah larut ini memperlihatkan padaku sepinya angkutan di jalan yang menuju titik start pendakianku itu.
            “Badeh kamana Sep?” tanya seorang pedagang di sebuah warung kecil tempat Oelil membeli sebungkus Djarum Coklat.
            “Gunung Putri Pak” sahut Oelil dengan sedikit senyumnya yang manis.
            Sementara aku dan Sinchan iseng membuka peta dan duduk di pinggir jalan di malam itu sambil kulak-kulik GPS yang baru kemarin aku pelajari cara pemakaiannya.
            Sebuah besi tua bermesin kosong tiba-tiba lewat. Tawar menawar pun terjadi. Dan hasilnya, kembali kusimpulkan manusia brengsek sialan yang suka memanfaatkan situasi. Harga yang tidak masuk akal dari harga standar.
            Aku yang membawa duit iuran bareng menolak. Sesuai rencana operasional aja kayaknya kekurangan, apalagi ditombokin hanya buat ngasi sedekah buat manusia-manusia brengsek sialan. Buat apa. Toh aku bisa long march.
            Aku pun berjalan. Diikuti oleh Oelil, Sinchan, dan Adek. Belum beberapa puluh meter, kembali sebuah besi tua bermesin lewat yang tampaknya di dalamnya ada beberapa manusia yang tujuannya sama denganku. Akhirnya aku pun naik. Setelah sebentar bernegosiasi dengan sang sopir dan tentunya manusia-manusia di dalamnya itu. Ya lumayan, bisa sedikit lebih murah walaupun lebih mahal dari perencanaan.
            Di dalam besi tua itu, aku pun nanya ini itu ama manusia-manusia itu. Intinya sih nanyain Surat Izin mereka buat mendaki Gede Pangrango. Ternyata mereka punya lebih.
            “Wah… aku bisa nebeng nih ama mereka”
            Dengan sedikit maksa akupun minta ama mereka supaya bisa ikutan. Dan mereka pun mau walaupun dengan wajah cemberut yang jelas kelihatan tidak senang dan tidak rela.
            “Seenaknya aja ini orang mau nebeng” mungkin begitu mereka mengumpat.
            Tiba di titik start Gunung Putri, tampak tidak sedikit manusia-manusia yang ternyata juga punya tujuan sama. Manusia-manusia yang bersamaku yang menjanjikan bisa nebeng surat izin mereka pun mulai tak tampak batang hidungnya.
            Brengsek!!! Kali ini manusia pelit dan ingkar janji yang kutemui.
            Tapi, ya… sudahlah. Toh sesuai rencana, kalau aku akan tetap mendaki Gede dan Pangrango walaupun tanpa surat izin.
            Angin malam dan rintiknya hujan yang kembali turun menemaniku menyusuri jalan setapak yang menuju ke sebuah rumah kecil di ujung jalan itu yang merupakan pos penjagaan.
            Terlihat manusia-manusia yang beruntung di hari-hari sebelumnya bisa mendapatkan izin untuk naik dengan ransel besar dan kecil mulai meninggalkan pos itu untuk memulai perjalanan mereka.
            Sedangkan aku? Walaupun dengan baik-baik telah bicara dengan petugas jaga pos itu, tetap saja dengan wajah tanpa senyum dan pidato peringatan segala tetek bengek peraturan di tempat itu melarangku untuk naik.
            “Tak ada pilihan lain. Kalian harus balik ke Jakarta malam ini” serunya dengan tatapan kesal walaupun hati ini juga lebih kesal karena larangan itu. Dan lagi, ngapain nyuruh balik ke Jakarta. Emangnya aku datang dari Jakarta.
            Kami pun sama-sama diam. Aku tetap duduk di beranda pos jaga itu. Sementara datang lagi satu rombongan pendaki, ngurus perijinan, dan kemudian berangkat memulai perjalanan mereka.
            Adek yang terlihat begitu lelah tertidur di samping ransel di dalam payungan langit hitam malam itu. Sementara Sinchan duduk di sampingnya sambil menatapi samar-samar Puncak Gunung Gede di kegelapan malam. Aku ditemani Oelil masih tetap mencari cara negosiasi untuk bisa naik. Tetapi mereka masih bersikeras, dan cuek padaku yang tetap tinggal di beranda itu. Sambil menunggu pagi, tenda doome dibuka di halaman pos jaga itu. Peduli amat. Mataku ngantuk. Begitu juga teman-temanku.
            Dan entah apa yang dibicarakan oleh Oelil bersama penjaga pos itu. Akhirnya perjalanan ini diizinkan juga walaupun dengan syarat dan bayar sepuluh ribu perak. Mungkin karena permintaan yang sedikit maksa disertai wajah sangar Si Oelil, petugas jaga pos itu menyerah. Atau mungkin karena rayuan Si Oelil yang rada-rada berbau homreng memikat petugas jaga itu. Ah, peduli amat juga. Yang penting nanti pagi aku bisa memulai perjalananku.

To Be Continued .....
Bandung, April 2004