Harta Karun untuk Semua

    Mari kita lebih peduli pada nasib bumi kita!
    Save the nature, save the earth!!!

    Hari ini kiriman buku yang saya pesan dari Amazon.com datang. Ada satu buku yang langsung saya sambar dan baca seketika. Judulnya: “Stuff - The Secret Lives of Everyday Things”. Buku itu tipis, hanya 86 halaman, tapi informasi di dalamnya bercerita tentang perjalanan ribuan mil dari mana barang-barang kita berasal dan ke mana barang-barang kita berakhir.
    Dimulai sejak SD, saat saya pertama kali tahu bahwa plastik memakan waktu ratusan tahun untuk musnah, saya sering merenung "orang gila mana yang mencipta sesuatu yang tak musnah ratusan tahun tapi masapenggunaannya hanya dalam skala jam-bahkan detik?" Bungkus permen yang hanya bertahan sepuluh detik di tangan, lalu masuk tong sampah, ditimbun di tanah dan baru hancur setelah si pemakan permen menjadi fosil.
    Sukar membayangkan apa jadi nya hidup ini tanpa plastik, tanpa cat, tanpa deterjen, tanpa karet, tanpa mesin, tanpa bensin, tanpa fashion. Dan sebagai konsumen dalam sistem perdagangan modern, sejak kita lahir rantai pengetahuan tentang awal dan akhir dari segala sesuatu yang kita konsumsi telah diputus. Kita tidak tahu dan tidak dilatih untuk mau tahu ke mana kemasan styrofoam yang membungkus nasi rames kita pergi, berapa banyak pohon yang ditebang untuk koran yang kita baca setengah jam saja, beban polutan yang diemban baju-baju semusim yang kita beli membabi-buta.
    Untuk aktivitas harian yang kita lewatkan tanpa berpikir, yang terasa wajar-wajar saja, pernahkah kita berhitung bahwa untuk hidup 24 jam kita bisa menghabiskan sumber daya bumi ini berkali-kali lipat berat tubuh kita sendiri?
    Untuk menyiram 200 cc air kencing, kita memakai 3 liter air. Untuk mencuci secangkir kopi, kita butuh air sebaskom. Untuk memproduksi satu lapis daging burger yang mengenyangkan perut setengah hari dibutuhkan sekitar 2,400 liter air. Produksi satu set PC seberat 24 kg yang parkir di atas meja kerja kita menghasilkan 62 kg limbah, memakai 27,594 liter air, dan mengonsumsi listrik 2,300 kwh. Bagaimana dengan chip kecil yang bekerja di dalamnya? Limbah yang dihasilkan untuk memproduksinya 4,500 kali lipat lebih berat daripada berat chip itu sendiri.
    Mengetahui mata rantai tersembunyi ini bisa menimbulkan berbagai reaksi. Kita bisa frustrasi karena terjepit dalam ketergantungan gaya hidup yang tak bisa dikompromi, kita bisa juga semakin apatis karena tidak mau pusing.
    Yang jelas, sesungguhnya ini adalah pengetahuan yang sudah saatnya dibuka. Pelajaran ilmu alam, selain belajar penampang daun dan membedah jantung katak, dapat dibuat lebih empiris dengan mempelajari hulu dan hilir dari benda-benda yang kita konsumsi, sehingga tanggung jawab akan alam ini telah disosialisasikan sejak kecil.
    Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki gedung FO empat lantai, Pasar Baru, atau berjalan-jalan ke Gasibu pada hari Minggu di mana ada lautan PKL "Tidakkah semua baju dan barang-barang itu mampu memenuhi kecukupan penduduk satu kota? Tapi kenapa barang-barang ini tidak ada habisnya diproduksi?" Setiap hari selalu ada jubelan pakaian baru yang menggelontori pasar. Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki hypermarket dan melihat ratusan macam biskuit, ratusan varian mie instan, dan ratusan merk sabun "Haruskah kita memiliki pilihan sebanyak itu?"
    Pernahkah kita merenung, apa yang kita inginkan sesungguhnya jauh melebihi apa yang kita butuhkan?
    Atas nama kecukupan, satu manusia bisa hidup dengan lima pasang baju dalam setahun, bahkan lebih. Atas nama fashion, jumlah itu menjadi tidak berbatas. Atas nama kebutuhan, satu manusia bisa hidup dengan beberapa pilihan panganan dalam sehari. Atas nama selera dan nafsu, seisi Bumi tidak akan sanggup memenuhi keinginan satu manusia.
    Permasalahan ini memang bisa dilihat dari berbagai kaca mata. Seorang ekonom mungkin akan menyalahkan sistem kapitalisme dan globalisasi. Seorang sosialis akan mengatakan ini masalah distribusi dan pemerataan. Tapi jika kita runut, satu demi satu, bahwa Bumi adalah kumpulan negara, negara adalah kumpulan kelompok, dan kelompok adalah kumpulan individu, permasalahan ini akan kembali ke pangkuan kita. Dan kesadaran serta kemauan kitalah yang pada akhirnya akan memungkinkan sebuah perubahan sejati.
    Belum pernah dalam sejarah kemanusiaan keputusan harian kita menjadi sangat menentukan. Tidak perlu menunggu Amerika menyepakati protokol Kyoto, tidak perlu juga menunggu penjarah hutan tertangkap, setiap langkah kita-memilih merk, kuantitas, tempat, gaya hidup adalah pilihan politis dan ekologis yang menentukan masa depan seisi Bumi.
    Saya belum bisa mengorbankan komputer karena itulah instrumen saya bekerja, tapi saya bisa lebih awas dengan jam penggunaan dan mematikannya jika tidak perlu. Saya belum bisa mengorbankan kebutuhan akan informasi, tapi saya bisa memilih membaca berita lewat internet atau membaca koran di tempat publik ketimbang berlangganan langsung. Bagaimana dengan fashion? Di dunia citra ini, dengan profesi yang mengharuskan banyak tampil di muka publik, saya pun belum bisa mengorbankan keperluan fashion (baca: membeli busana lebih sering dari yang dibutuhkan), tapi saya bisa membuat komitmen dengan lemari pakaian, yakni baju yang saya miliki tidak boleh melebihi kapasitas lemari saya. Jika lebih, maka harus ada yang keluar. Dan setiap beberapa bulan saya dihadapkan pada kenyataan bahwa ada baju yang tidak saya pakai setahun lebih atau baju yang cuma sekali dipakai dan tak pernah lagi. Bukan cuma baju, ada juga buku, pernik rumah, alat dapur, bahkan sabun dan sampo yang utuh tak disentuh.
    Alhasil, dalam rumah saya ada semacam peti-peti ‘harta karun’, yang berisikan barang-barang yang harus keluar dari peredaran, karena jika dipertahankan hanya menjadi kelebihan tanpa lagi unsur manfaat. Harta karun ini lantas harus dicarikan lagi outlet untuk penyaluran.
    Pada waktu perayaan 17 Agustus, di kompleks saya diselenggarakan bazaar. Para warga menyewa stand untuk berjualan. Saya ikut berpartisipasi, dan sayalah satu-satunya penjual barang bekas di antara penjual barang-baru baru. Karena bukan demi cari untung, barang-barang itu saya lepas dengan harga sangat murah. Yang membeli bukan cuma warga kompleks, tapi juga dari kampung sekitar. Hari pertama, saya sudah kehabisan dagangan. Terpaksa saya mengontak saudara-saudara saya yang barangkali juga punya barang bekas untuk disalurkan. Sama dengan saya, mereka pun punya timbunan harta karun yang entah harus diapakan. Stand saya menjadi salah satu stand paling laris selama bazaar berlangsung. Dan kakak saya terkaget-kaget dengan penghasilan yang ia dapat dari tumpukan barang yang sudah dianggap sampah.
    Berjualan di bazaar tentu bukan satu-satunya jalan, ada aneka cara kreatif lain untuk memanfaatkan harta karun kita, termasuk juga disumbangkan. Namun yang lebih sukar adalah memulai membuat komitmen-komitmen pembatasan diri. Berkomitmen dengan rak buku, dengan lemari pakaian, dengan rak kamar mandi, dengan laci dapur, dan pada intin... dengan diri sendiri. Siapkah kita menentukan batasan dan berjalan dalam koridor itu?
    Dan, yang lebih susah lagi, adalah pengendalian diri dari awal bersua aneka pilihan yang membombardir kita setiap hari, lalu sadar dan mawas akan rantai sebab-akibat yang menyertai pilihan kita. Membuka diri untuk info dan pengetahuan ekologi adalah salah satu cara pembekalan yang baik. Walaupun sekilas tampak merepotkan dan bikin frustrasi, tapi kantong kresek yang kita buang tadi pagi tidak akan hilang oleh sihir, dan hamburger yang kita makan tidak dipetik dari pohon. Rantai yang menyertai barang-barang itu tidak akan hilang hanya karena kita menolak tahu.
    Banyak orang yang berkomentar pada saya, ”Aduh, Wi. Kamu bikin hidup tambah susah saja.” Dan mereka benar. Hidup ini tak mudah. Untuk itu kita justru harus belajar menghargai setiap jengkalnya. Memilih hidup yang lebih sederhana, hidup dengan tempo yang lebih pelan, hidup dengan pengasahan kesadaran, tak hanya membantu kita lebih eling dan terkendali, tapi juga membantu Bumi ini dan jutaan manusia yang dijadi kan alas kaki oleh industri demi pemenuhan nafsu konsumsi kita sendiri.
    Lingkaran setan? Ya. Tapi tidak berarti kita tak sanggup berubah.
    Selama ini kita adalah pembeli yang berlari. Dalam kecepatan tinggi kita bertransaksi, sabet sana sabet sini, tanpa tahu lagi apa yang sesungguhnya kita cari.
    Berhentilah sejenak. Marilah kita berjalan.

Taken from Dewi Lestari - Harta Karun untuk Semua
Jakarta, Desember 2007

                            

Adelin Lis dan Nurdin Halid

    Aku mungkin nggak begitu mengerti tentang politik. Nggak begitu mengerti tentang hukum. Tetapi dua tokoh yang kutulis sebagai judul dari tulisanku ini cukup menyita perhatianku. Beberapa koran belakangan ini selalu mengupas berita tentangnya. Tiap kali buka detik, pasti ada berita tentang mereka.
    Adelin Lis, Sang Raja Kayu dari Medan. Berstatus bebas setelah melalui proses penyidangan di Medan, Sumatera Utara. Memang sih kalau dilihat dari sisi hukum, ia katanya hanya kena hukum perdata. Cukup didenda atas kesalahan yang dilakukannya. Hanya terkena vonis masalah kesalahan administrasi. Tapi kalau aku melihat dari mata orang awam, bagaimana ribuan hektar hutan di wilayah yang menjadi kekuasaanya dulu itu hilang? Bagaimana lingkungan rusak? Bagaimana habitat mahluk hidup yang ada di sana? Harimau Sumatera misalnya, saat ini hanya berjumlah 400 ekor di dunia. Entah nanti.
    Sedangkan Nurdin Halid, ketua umum PSSI ini, entah bagaimana cara berpikir tokoh-tokoh pemimpin bidang olah raga di negara ini. Sudah jelas-jelas ada teguran dari FIFA atas kasusnya. Masa PSSI dipimpin oleh seorang yang sedang dipenjara? Dan penyebabnya lagi, memalukan. Korupsi. Beugh...!!! Seperti nggak ada orang lain yang bisa dipilih lagi untuk memimpin organisasi tersebut. Ga kebayang ketika ia memberikan semangat moral kepada para pemain PSSI yang mati-matian bertanding demi mengharumkan nama bangsa. Nah, sedangkan ia sendiri seperti itu. Mungkin dibenarkan hal tersebut dilakukan ketika pedoman dasar mereka yang dilihat. Pedoman dasar yang mereka buat tanpa menghiraukan pedoman internasional yang menjadi patokan setiap asosiasi sepak bola tiap negara.
    Aku memang tak begitu mengerti masalah politik dan hukum. Tapi dari dua orang ini, dari kasus mereka, yang pasti, bagaimanapun pembelaan mereka, hati kecilku tetap nggak bisa menerima atas apa yang mereka lakukan dan atas apa yang mereka dapatkan.

Jakarta, November 2007

Cinta

     Valentine? Apaan nih? Hari kasih sayang. Hari cinta. Ketika banyak orang yang merayakannya. Banyak yang ikut-ikutan. Banyak yang cuek-cuek aja. Banyak yang nggak peduli. Dan banyak pula yang mencemohnya. Yach... apapun itu, sah-sah saja selama tidak mengganggu orang lain dan kita tidak melihatnya dari satu sisi. Mengartikan hari, mengartikan cinta, mencintai, ataupun dicintai. Ngomong apaan sih?
     Ehm... Klo menurut gw, mencintai adalah saat dimana kita membuat sesuatu atau seseorang itu berarti bagi kita. Apapun itu dan siapapun itu. Tidak bisa menghindar, tidak bisa menolak, perasaan itu menjadi ada. Dan ketika kita merasakan jatuh cinta, ketika itu pula bersiap untuk sakit. Karena di manapun yang namanya jatuh itu pasti rasanya sakit.
     Kalau cinta, ada yang bilang bahwa "cinta itu tak harus memiliki". Memang sih hal tersebut ada benarnya. Tapi menyakitkan banget. Bayangkan aja ketika kita mencintai seseorang tapi tak bisa memilikinya. Ambil contoh klo kita jatuh cinta ama seseorang yang kita liat di tipi, Tom Cruise atau Britney spears misalnya, tentunya susah bagi kita untuk memilikinya. Sedih bukan? Beugh... contoh yang aneh banget dan ga mengena. Dasar bodoh! Lengeh celenge...!!! Ganti!!!
     Udahlah, contoh orang kebanyakan aja deh. Misalnya kita mencintai seseorang. Yang kita tau dan udah kita kenal  pastinya (bukan artis di tipi lagi). Karena sesuatu hal, kita tidak bisa bersama mereka. Putus deh di tengah jalan. Atau nggak bisa bersama. Lingkungan tak bisa menerima. Karena perbedaan misalnya. Sosial, agama, umur, cara berpikir, de el el. Jarak yang memisahkan. Dikhianati. Ditinggalkan. Sakit...? Pasti lah ya. Namanya aja jatuh.
     Atau yang lebih parah lagi, mencintai seseorang yang tidak mencintai kita. Hahaha... Susah deh kalau yang ini, punya pujaan hati, tapi jauh di mata jauh pula di hati. Beugh... Adakah yang seperti ini? Mmm... Banyaklah tentunya, cinta bertepuk sebelah tangan. Ya udah, nikmatin aja kata-kata "cinta tak harus memiliki" itu. Hehehe...
     Yach... apapun alasannya, itu adalah hak setiap orang untuk menentukan perasaannya. Menentukan pilihannya. Mau mencintai kita, mau memiliki kita, atau tidak dua-duanya sama sekali. Itu hak mereka. Emangnya kita bisa seenaknya membuat seseorang bisa kita miliki?
     Ada yang bilang kalau "cinta itu tahi kucing rasa coklat". Bingung gw. Perasaan ga ada yang mau makan tahi kucing deh walaupun rasanya coklat. Tapi udahlah. Cuman mau mengatakan kalau kita mencintai seseorang dan orang tersebut mencintai kita juga. Apalagi semua bisa menerima. Duh... indahnya. Dunia serasa milik berdua. Bahagia bersama. I Love U dear...
     Tapi, btw, gw jadi ngelantur begini nih jadi nulis tentang cinta. Padahal mo nulis tentang valentine. Kayak jagoan banget tentang cinta. Tapi kalau hanya berpendapat itu adalah sah-sah aja, bukankah begitu teman-temanku sekalian? I Love U deh. Hehehe...
     Yach... apapun hari ini bagi kalian, gw cuman mo ngucapin Met Valentine. Maap buat yang kurang berkenan. Gw harap semoga cinta selalu ada dalam setiap langkah kita.
     Akhir kata, nggak hanya buat hari ini, tapi buat selamanya, buat semuanya, gw cuman mo bilang bahwa kita semua layak untuk mendapatkan cinta di dunia ini. So, perjuangkanlah. Hargai sepenuhnya jika diberikan. Dan yang pasti, berikan pula itu dengan setulus hati.

Jakarta, Februari 2007

Musim Kemarau Kering, Musim Hujan Banjir

    Di suatu pagi, di sudut kota, di kala gerimis mengundang (kok seperti judul lagu band dari Malaysia ya?).
    * * *
    Ketika musim hujan telah datang. Banjir pun menjadi langganan. Ketika musim kemarau, panasnya minta ampun.  Benar-benar memprihatinkan. Kenapa itu bisa terjadi?
    Kemarau, orang berlomba-lomba membakar hutan supaya lahan yang nantinya dibuka bisa dijadikan kebun dan ladang di musim penghujan. Kalau musim hujan datang, ya sutralah...
    Kita semua tahu kalau segala bencana yang terjadi memang atas kehendakNya. Takdir katanya. Beugh... Takdir apaan kalau yang membuat takdir juga kita sendiri. Tapi walaupun memang harus seperti itu, bukan berarti membuat kita seenaknya saja memperlakukan alam dan isinya. Kita semua bisa berusaha dan dibekali kekuatan untuk selalu berusaha dan berbuat yang terbaik.
    Ketika musim kemarau yang panjang, sadarkah kita gemericik sungai yang tetap mengalir itu datang dari mana? Air yang masih mengucur dari keran kamar mandi kita datang dari mana? Masih ada udara yang bisa dihirup itu dari mana? Dan ketika musim hujan tiba, kalau terjadi banjir, itu karena apa?
    Kenapa orang senang mengunjungi tempat-tempat yang indah? Dan kenapa orang jarang mengunjungi tempat yang tak indah? Kota dan desa yang kumuh atau banjir misalnya? Mendaki gunung yang gundul kering kerontang? Atau menyusuri sungai yang penuh limbah dan bau? Masih mau nggak kita berwisata melakukan perjalanan-perjalanan ke tempat seperti itu? Masih? Baguslah...
    Seorang kawan pernah berkelakar, kalau saja musim kemarau itu terjadi puluhan tahun, atau musim hujan berlangsung puluhan tahun, masihkah tindakan kita memperlakukan alam seperti sekarang ini? Dan apakah yang akan terjadi? Mungkin saja semua mahluk di bumi ini punah. Dan bumi mengulang siklus kehidupan dari awal lagi.
     Mungkin apa yang dikatakan itu terlalu berlebihan. Tapi kalau dipikir, mungkin nggak itu terjadi? Kemungkinannya ada. Kalau memang harus terjadi, mau ke mana lagi kita lari? Apakah kita semua akan pindah ke Mars?
    Hal-hal seperti ini (kering di musim kemarau dan banjir di musim penghujan), sesungguhnya bukan suatu hal yang baru bagi negeri ini. Hanya saja jika dibandingkan dengan kejadian-kejadian sebelumnya, ada perbedaan frekuensi dan kerusakan yang ditimbulkan (bertambah tentunya).
    Kita semua juga menyadari, jika ditanya kenapa itu terjadi, pasti bisa menjawab karena keseimbangan alam terganggu dan rusak. Dan ketika banjir atau kekeringan tiba, menangislah kita. Bantuan pun mulai berdatangan. Tapi penanganan supaya tak terulang lagi tidak ada. Jika diibaratkan manusia, kita hanya berobat ketika sakit tetapi kesehatan tidak pernah dipelihara dan dijaga.
    Dan semoga saja kita semua sadar, untuk menangani itu semua bukan hanya dengan membantu korban yang terkena banjir atau kekeringan yang hanya sesaat. Yang di kemudian hari jika terjadi banjir dan kekeringan lagi, semua itu akan terulang lagi. Tetapi lebih ke arah menjaga dan memulihkan lingkungan untuk jangka yang lebih panjang.
    Beugh... Kemarin musim kemarau, kebakaran dan kekeringan merajalela. Sekarang, kepala pusing mikirin hujan berhari-hari dan banjir merajalela di musim penghujan.
    * * *
    Akhirnya, banjir yang merusak membuat akhir minggu awal bulan ini memberikan kewajiban yang harus segera diselesaikan. Bersama beberapa tim, aku pun berangkat, dipayungi mendung hitam dengan hujan bergerimis, ditemani angin yang membawa senyum manis dari kejauhan, menuju target sasaran, dan menyusuri kota yang dikepung oleh banjir di mana-mana.

Jakarta, Februari 2007

Musibah di Tahun Baru (Adam Air dan Senopati)

    Tak ada kata lain lagi yang bisa dikatakan selain turut berduka atas musibah yang terjadi pada pesawat Adam Air yang sampai hari ini masih misteri. Begitu pula pada tragedi Kapal Senopati, yang penumpangnya masih banyak belum ditemukan.
    Entah ya, makin banyak spekulasi, makin bingung. Hilangnya Adam Air bisa jadi karena pesawat mengalami gangguan teknis mekanik, telekomunikasi, dan navigasi, nyasar entah ke mana. Atau mungkin karena kehabisan bahan bakar lalu nyebur ke laut atau nyungsep di hutan. Atau mungkin segitiga bermuda pindah ke indonesia kemudian menelan pesawat itu. Atau jangan-jangan pesawat Adam Air itu dibajak oleh Al-Qaeda kemudian diterbangkan entah ke mana. Atau malah diculik oleh mahluk luar angkasa. Siapa tahu? Atau malah bisa jadi sang pilot yang dulu bercita-cita jadi astronot menerbangkan pesawatnya kemudian terdampar di bulan. Hehehe, makin bingung.
    Sedangkan kalau Sang Senopati, si kapal feri, walaupun kapal udah diketahui, penumpang masih banyak berceceran. Menyedihkan. Gimana ya, apalagi di laut luas. Pasti banyak ikan hiu atau paus. Hhh... semoga aja tidak. Sanak saudara pasti gelisah. Sedih tentunya. Menunggu kabar keluarga tercinta. Mau menangis, mau marah, tentu semua itu tak menyelesaikan masalah. Mau gimana lagi. Semoga saja kejadian ini bisa diambil hikmahnya supaya bisa berbuat yang lebih baik lagi dalam terbang di udara atau berlayar di laut.
    Yach... kita semua tahu segala sesuatu pasti ada waktunya. Ada lahir ada mati. Ada kesedihan ada kemuliaan. Di darat, di laut, di udara, di manapun, kalau memang sudah waktunya, kita tak mungkin bisa bersembunyi layaknya ngumpet dari kejaran penagih utang.
    Semoga semua keluarga korban diberikan kekuatan. Dan kepada korban, baik meninggal ataupun tidak, diberikan jalan yang terbaik. God bless you!

Bandung, Januari 2007

Menulis

    Aku tak tahu harus mulai dari mana
    Aku tak tahu harus menulis apa
    Di tanganku duka, di tanganku suka

    .....

    Menulis. Ngapain kita menulis? Apa yang harus kita tulis? Ketika pikiran dan otak yang lagi ga jelas malah nulis. Walaupun ingin menulis, tapi yang mau ditulis itu apa?
    Beugh..., menulis itu, katanya hanya membiarkan pikiran berkelana dan melayang. Pada apa yang kamu lihat. Pada apa yang kamu rasakan. Biarkan jari jemari menari di atas tuts-tuts keyboard komputer. Mendeskripsikan satu demi satu kata-kata di dalam otak. Menuangkan segala keluh kesah dan cerita di dalam hati. Pada selembar layar putih bersih berekstensi txt. Apapun itu, tuangkanlah.
    Tapi, ngomong-ngomong kenapa harus menulis? Padahal gw ga pernah sama sekali berkeinginan untuk menulis. Dan kamu juga sepertinya, mungkin.
    Suatu hari, ketika masih SMA, gw tidur-tiduran di kamar kakak gw yang cantique. Penuh boneka di sana. Gw liatin. Salah satu boneka itu terselip sebuah kertas, ada sebuah cerita kecil tentang boneka itu yang tertera. Kok bagus ya ceritanya.  Seperti ada sejarahnya. Kemudian, di sebuah kotak mungil dengan gemboknya yang juga mungil, tapi tidak terkunci, ada sebuah buku catatan kecil. Sebuah diary, pinky winky warnanya. Mulai gw buka, gw lihat, dan gw baca. Satu demi satu. Ada coretan-coretan di dalamnya. Ada puisi juga. Ada cerita juga. (Hehehe... I'm sorry Sis..., ga sengaja terbaca neh).
    Nah, dari kejadian itu, gw jadi berpikir, kayaknya keren nih klo gw bikin puisi. Seperti kakak gw. Akhirnya gw ambil secarik kertas, mo nulis puisi ceritanya. Kertas udah di hadapan, bolpen udah di tangan, beugh... akhirnya malah ga tau mo nulis apa. Pusing. Klo ga salah, gw menulis tentang bulan waktu itu. Cuman jadi aneh. Bisa-bisanya gw menulis tentang bulan. Entah dari mana tiba-tiba aja bisa bulan. Mungkin karena malam itu bulan bersinar terang di luar sana. Kalimat pertama yang kutulis berbunyi "bulan yang indah..." Abis itu ga tau lagi apa lanjutannya. Ya udah, akhirnya kertas itu pun dibuang. Tuing... Terbanglah si bulan ke tempat sampah. Bhuahahaha... Sori Lan...
    Ketika menjelang tidur, mata masih melek, dan pikiran pun melayang. Si bulan ternyata masih menggoda angan. Gw berkata-kata sendiri dalam hati. Merangkai kata demi kata. Layaknya gw bercerita, kepada diri sendiri. Ditemani sang bulan. "Klo semua yang gw katakan ini gw tulis kayaknya bagus", begitu gw pikir. Lalu gw pun beranjak, mencoba lagi untuk menulis. dan hampir sama, beugh... hilang semua apa yang mau ditulis ketika kertas dan bolpen udah di tangan. Gw coba ingat-ingat kembali, masa bodoh, yang penting gw tulis, akhirnya jadi juga. Puisi yang ga jelas.
    Puisi itu akhirnya gw simpan aja. Beberapa waktu kemudian,  gw lihat dan gw baca. Yach... kok jadi aneh. Gw tertawa sendiri membaca puisi itu. Tapi kemudian, gw buat lagi, yang baru. Sedangkan puisi lama itu gw edit-edit lagi. Begitu seterusnya, ketika SMA gw punya beberapa catatan dan tulisan-tulisan yang ga jelas. Beberapa teman sekelas gw juga punya. Dan gw inget banget, seorang teman minta gw dan teman-teman yang lain untuk menulis puisi di sebuah buku miliknya. Buat kenang-kenangan katanya. Setelah semuanya menulis, suatu hari buku itu gw pinjem, gw baca-baca tulisan temen-temen sekelas gw, ciah... semua punya gaya sendiri-sendiri. Menarik. Dan di mana pada suatu hari nanti, gw berpendapat semua orang itu sebenarnya punya keinginan dan cita rasa dalam hal menulis. Menulis apapun itu. Menulis program, scripts, TA, skripsi, atau penelitian lah contohnya. (Hehehe... Berat amat tulisannya.)
    Beranjak kuliah, gw mulai mencoba untuk memiliki buku harian. Bhuahahaha... Buku harian katanya. Udahlah... ga usah dibahas. Jadi malu. Tapi sah-sah saja bukan?
    Buku harian merangkap jadwal kegiatan. Isinya kejadian sehari-hari gw. Gw tulisin setiap malam tentang kejadian yang gw alamin tadi pagi sampai malam, dan apa yang harus gw lakukan besok pagi sampai malam berikutnya. Sebenarnya, ga selalu setiap hari. Cuman kalau lagi males, bisa jadi kejadian seminggu gw rangkum dan dicatat jadi satu, atau malah sebulan. Atau kadang dilewatkan sama sekali. Hehehe...
    Menulis yang kayak beginian ini (buku dan jadwal harian -red) sebenarnya udah diajarin ama pembina pramuka gw waktu SD dulu. Untuk melatih kerajinan, kemandirian, dan kedisiplinan. Pramuka gitu loh... Hahaha... Cuman ga pernah gw lakuin sepenuhnya. Buat apa? Apa bisa dijual? Begitu dulu mikirnya.
    Tulisan atau catatan harian yang gw tulis itu sederhana. Malah mungkin bisa dibilang ga berkelas. Ga jelas. Ga bermutu. Ga menarik lah kalau dibaca.
    Tapi, ternyata, yang sangat hebat, yang nggak disangka-sangka, ternyata catatan harian gw itu, yang dulu gw anggap nggak bermutu, ternyata menjadi sangat berharga jauh di tahun-tahun ke depannya. Bukan berharga dalam hal materi atau uang. Tapi berharga buat diri pribadi. Sekali lagi buat diri pribadi.
    Wuih...  ketika membaca kembali kejadian-kejadian dulu, dulu sekali, bertahun-tahun yang lalu, jadi tersenyum sendiri, atau jadi sedih sendiri. Terharu. Mengenang berbagai kejadian itu. Ternyata gw dulu begini, gw dulu begitu. Ama si ini, dan ama si itu. Sungguh kenangan yang sangat berharga. Andai saja itu nggak ditulis, mungkin sudah terlupakan. Sebuah catatan sejarah titipan nenek moyang. Hehehe...
    Dari catatan-catatan yang ditulis itu, apapun bentuknya, ternyata semua itu bisa menyalurkan emosi. Sedih ataupun senang. Tentang diri sendiri, tentang kamu, tentang dia, tentang mereka, atau tentang siapa saja. Ditulis tanpa beban, jujur, tanpa memikirkan tulisan itu bagus atau pun nggak. Ternyata ada banyak pelajaran yang bisa direnungkan dari semua pengalaman dan cerita itu. Yang bisa digunakan sebagai cermin pribadi, atau gambaran tentang orang-orang dan hal-hal di sekitar. Yang mungkin bisa dibagi kepada orang lain ketika mungkin mereka mengalami hal yang sama. Atau sebagai pelajaran jika suatu hari menghadapi hal yang sama.
    Dan dari catatan-catatan itu pula, kadang gw jadi berpikir, nanti buat apa ya? Apa itu berguna buat orang lain? Sepertinya ga lah ya. Apalagi tulisan sehari-hari yang cukup diketahui oleh diri sendiri. Tapi walaupun demikian, gw jadi ingin mengabadikannya. Sayang kalau dibuang. Mungkin akan gw simpan di sebuah acount storage di dunia maya. Di Geocities misalnya. Atau dibikinin domain dan hosting sendiri dalam waktu yang tak terbatas. User id dan passwordnya akan gw simpan di tempat tertentu atau gw berikan kepada seseorang suatu hari nanti sebelum gw mati. Siapa tahu ada yang berkeinginan mengetahui sejarah gw. Bhuahahaha... Tapi sah-sah saja bukan? Udahlah.
    Kembali lagi soal menulis. Lepas dari yang namanya catatan harian, klo gw sendiri, sebenarnya ga begitu berminat dengan yang namanya menulis, hanya sering ikut-ikutan. Ya seperti di atas, ngikut-ngikut kakak gw. Atau gaya-gayaan. Dan kalaupun menulis, gw pasti sering dipengaruhi oleh gaya tulisan dari tulisan-tulisan sebelumnya yang gw baca. Klo abis baca tulisan pujangga, gw nulisnya pasti jadi ikut-ikutan sok pujangga, sok puitis, sok romantis. Klo abis baca National Geographic, buletin atau tulisan-tulisan ilmiah, pasti gayanya ikut-ikutan ilmiah. Klo abis baca tulisan yang rada-rada slengean, gw malah terbawa nulis dengan gaya slengean. Kayak sekarang neh contohnya, malah pake kata "elu elu gw gw". Padahal sebelumnya nggak banget jika untuk menulis. Gw lebih senang dengan gaya yang formal, menyesuaikan dengan EYD. Bahasa yang lazim untuk berbagai kalangan. Cinta bahasa Indonesia. Apa mungkin karena lingkungan dan pengaruh orang-orang sekitar? Beugh... Ga jelas nih jati diri. Bodo ah. Teing... Lieur...
    Terakhir belajar tentang menulis di organisasi pecinta alam yang gw ikutin. Gw diajarin yang namanya teknik fotografi dan jurnalistik. Keduanya merupakan sebuah bentuk pendokumentasian. Dokumentasi berbagai peristiwa, perjalanan, atau pengalaman. Dan dua-duanya menarik. Cuman, karena ini tentang menulis, gw ungkit tentang jurnalistiknya aja. Selain itu, masih seputaran masa-masa kuliah, juga ada pelajaran jurnalistik pada semester 1, udah lama banget, di mata kuliah Bahasa indonesia. Tapi sayang nilai gw B euy untuk mata kuliah ini.
    Ada banyak jenis tulisan yang bisa kita buat. Berita atau reportase, essay, laporan, atau yang lainnya. Satu hal sederhana yang bisa digunakan dalam menulis (dalam hal ini menulis berita), adalah prinsip 5W + 1H. Apaan tuh? Hahahaha... itu artinya berita dikatakan lengkap ketika berita yang kita tulis telah memuat unsur what, where, when, who, why, dan how. Selanjutnya...
    Eh, tapi kok gw jadi berbicara teknis nih di sini ya? Padahal amateur. Hehehe... Sori dori mori. Kalau kayak gitu, mending langsung baca buku tentang menulis aja. Hahaha...
    Tapi begitulah, menulis adalah suatu hal yang baik.Tuangkan segala keluh kesahmu, sampaikan opini ataupun pendapatmu, paparkan setiap perjalanan, tuangkan segenap pengalaman, pada selembar kertas, pada sehelai notepad, dan ceritakanlah kepadaku, kepadanya, kepada semuanya. Semoga ceritamu ikut mewarnai suasana dunia.
    Hhhh... Kurang lebih mungkin seperti itulah.

Song Lyrics Taken from Iwan Fals - Lagu Cinta
Bandung, Oktober 2006

Selingkuh

    Apa yang terjadi jika pengkhianatan terjadi dalam kehidupan hubungan pribadi? Dalam pacaran atau hubungan suami istri? Emm, merasa guncang, kecewa, tak enak, malu, atau marah? Hehehe, tak perlu repot-repot untuk memilih salah satunya. Semua perasaan itu bercampur aduk, berjuta-juta rasanya.
    Mencintai itu sungguh indah. Tetapi mencintai orang lain ketika sudah punya komitmen atau terikat perkawinan, tentu menimbulkan masalah.
    Kata Si Bunga, aku mencintai keduanya. Cowok yang ganteng dan bijaksana. Keduanya selalu ada di hatinya. Walaupun setiap saat harus selalu waspada, karena jika tidak bisa berbahaya. Tak berbeda jauh dengan Si Anton, yang berkata aku tak bisa melupakannya, dan telah hadir di antara kita. Aku mencintai keduanya, walaupun kutahu itu menyakitinya.
    Di lain pihak, seperti cerita Si Wulan dalam sinetron, yang sudah begitu mencintai ternyata dikhianati. Yang akhirnya memilih untuk pergi karena dilukai, walaupun jauh di dalam hati masih mencintai, sakitnya tak terperi. Atau cerita Si Jaka dalam telenovela, yang diselingkuhi pacar tercinta ketika pergi keluar kota. Kemudian memilih pergi karena terluka. Tak bisa menerima. Hati pun merana.
    Menyengsarakan hati? Pastilah ya! Namun, dari zaman dahulu kala hingga sekarang, tak sedikit yang melakukan perselingkuhan. Menjadi cerita sehari-hari yang menarik di kalangan pergaulan, gosip tetangga, di rumah, di kantor, atau di mana saja. Menjadi cerita yang menarik di sinetron-sinetron dan berita-berita infotaiment.
    Si Bunga, Si Anton, Si Wulan, atau Si Jaka tentunya sudah dewasa. Tahu bagaimana dalam menyikapi cinta. Yang masing-masing pasti punya alasan sendiri. Untuk mencintai, mengkhianati, atau memperlakukan hati dan harga diri.
    Terkadang selingkuh itu malah dianggap sebagai rekreasi yang menantang, selingan yang indah. Beugh! Berbagai macam memang alasan untuk jatuh cinta lagi alias selingkuh. Tak lagi sehati, pasangan terlalu sibuk, tak bisa mengerti keinginan masing-masing, kesepian, tertarik dengan orang lain, jauh, jenuh, sering bertengkar, penampilan tak lagi oke, seks tak memuaskan, bla bla bla. Wadauw...!!!
    Mengapa ada yang namanya perselingkuhan? "Itu karena ada yang namanya perkawinan" begitu kata Si A. Hehehe. Ada Si B yang menyebut selingkuh itu, "selingan indah keluarga utuh". Lalu dikatakan oleh Si C, "Selingkuh itu, sebuah joint venture, usaha gabungan berlapis tiga, terdiri dari dua pelakunya, didukung, dan dikompori setan". Wah, yang ini agak serem ya? "Awalnya, berjuta rasa, tetapi bila tak waspada, kenikmatan bisa berujung jadi neraka," begitu kata Si D. "Selingkuh, perbuatan yang tidak jujur, tidak setia, entah kepada pasangan hidup, pacar atau partner" sambung si E.  Dan apa kata Si F? "Sebenarnya kesetiaan itu bukan diukur apakah seseorang berkhianat atau tidak, melainkan apakah ia kembali lagi atau tidak". Wuih... Kok begitu ya?
    Hahaha, makin memusingkan lagi, ketika di sisi lain, Si G bertanya, "Apakah cowok atau cewek yang sudah berpasangan, baik berpacaran atau sudah menikah tidak berhak untuk jatuh cinta lagi?"
    Dan Si H yang lebih ekstrim, berpendapat, "Kesetiaan pada seorang saja seumur hidup itu nonsense, dan sama sekali tidak manusiawi! Sekali lagi tidak manusiawi!" Wuih... Yang kemudian disambung lagi oleh Si I, "Kalau pasangan tidak membahagiakanmu, kamu berhak mencari kebahagiaan di tempat lain". Atau kata Si J "Kalau kau mencintai seseorang dan bahagia bersamanya, kau harus menerima dia secara apa adanya, kekuatannya dan kelemahannya, termasuk affair-affairnya. Ya, termasuk affair-affairnya." Beugh!
    Hhhh... Ya begitulah, pusing tujuh keliling. Makin pening. Hubungan manusia itu begitu rumitnya, penuh lika-liku. Pernyataan-pernyataan di atas hanyalah sekedar menggambarkan retorika yang ada. Mengutip pendapat-pendapat berbagai orang dari berbagai kalangan. Sama sekali tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa selingkuh itu perilaku baik atau buruk. Belum tentu benar dan belum tentu juga salah. Halal atau tidak halal. Hidup ini pun tak sebaik atau seburuk seperti yang kita bayangkan. Kedalaman cara berpikir seorang manusia acapkali memang tak bisa diselami. Hati orang siapa yang tahu? Dan kita tentunya juga pasti berpikir, hal terbaik apa yang mestinya kita lakukan, untuk diri kita sendiri, atau untuk sesuatu yang kita cintai. Akankah kita mengerti?

Bandung, November 2006

Bumi Ini Berharga

      Bagaimana Tuan dapat membeli atau menjual
      Langit dan kehangatan tanah?
      Gagasan ini aneh bagi kami
      Kalau kami tidak memiliki udara yang segar
      Dan air yang bergemericik
      Bagaimana Tuan dapat membelinya?

      Aku mengagumi orang kulit merah. Orang Indian. Dalam sikapnya yang memperlakukan lingkungan dan alam begitu rupa. Akan pandangan bagaimana bumi ini adalah tempat seluruh mahluk hidup berada. Manusia dari berbagai ras suku bangsa. Bahwa kita semua adalah saudara. Hidup dan berpijak di atas bumi yang sama, ibunda tercinta. Akan kehidupan dan kematian yang penuh dengan misteri.

      Tahun 1854,"Pemimpin Besar Orang Kulit Putih" yang berkedudukan di Washington menyatakan keinginannya untuk membeli tanah milik orang Indian yang luas dan berjanji akan memberi mereka "tanah perlindungan". Jawaban Kepala Suku Seattle berikut dianggap sebagai pernyataan mengenai lingkungan hidup paling indah yang pernah dibuat. Yang saat ini kutulis kembali. Untuk kuceritakan lagi. Yang kuharap semoga berkenan dan memberikan arti di dalam hati. Semoga.

* * *

Semuanya Keramat

      Bagi bangsa saya, setiap bagian dari bumi ini adalah keramat. Dalam ingatan dan pengalaman bangsa saya, setiap pucuk daun cemara yang berkilauan, setiap pantai berpasir, setiap kabut yang menyelimuti hutan nan gelap, setiap jengkal tanah terbuka dan serangga yang bergumam adalah sakral. Sari kehidupan yang mengalir di dalam pepohonan menyimpan ingatan orang kulit merah.

      Orang kulit putih yang mati, ketika mereka berjalan di antara bintang, tidak ingat lagi dimana tanah kelahirannya. Bagi kami, orang mati tidak pernah melupakan bumi yang indah ini, karena bumi adalah ibunda orang kulit merah.

      Kami adalah bagian dari bumi dan bumi adalah bagian dari kami. Bunga-bunga semerbak wangi adalah saudara perempuan kami. Rusa, kuda, elang besar adalah saudara laki-laki kami. Tebing berbatu, sari bunga yang ada di lembah, kehangatan tubuh kuda dan manusia semuanya adalah keluarga.

Tidak Mudah

      Jadi, jika Pemimpin Besar di Washington mengajukan keinginan hendak membeli tanah kami, niat itu kami anggap sungguh penting. Pemimpin Besar memberi kabar kalau ia akan memberi tempat bagi kami, sehingga kami dapat hidup dengan sejahtera. Ia akan menjadi ayah kami dan dan kami menjadi putra putrinya. Oleh sebab itu kami akan mempertimbangkan keinginan untuk membeli tanah kami. Tetapi hal ini tidak akan mudah terlaksana, sebab bagi kami tanah ini keramat. Air berkilauan yang mengalir di sungai-sungai bukanlah sekedar air, melainkan darah nenek moyang kami.

      Kalau kami sampai menjual tanah kepada Tuan, harus diingat kalau tanah itu keramat. Tuan harus mengajari anak-anak Tuan kalau tanah itu suci, dimana setiap pantulan yang samar-samar di dalam air jernih danau menceritakan kejadian-kejadian dan ingatan pada kehidupan bangsa kami. Kecepak air adalah suara ayah dari ayah kami.

Kebaikan

      Sungai-sungai adalah saudara laki-laki kami. Mereka mengatasi dahaga kami. Sungai mengangkut kano-kano kami dan memberi makan anak-anak kami. Jika kami menjual tanah kepada Tuan maka Tuan harus ingat mengajari anak-anak Tuan kalau sungai adalah saudara laki-laki kami, seperti layaknya Tuan memberi keramahan yang pantas kepada saudara laki-laki.

      Kami tahu bangsa kulit putih tidak memahami tata kehidupan kami. Satu bagian tanah dianggap sama dengan bagian lain, karena ia adalah orang asing yang tiba pada malam hari, kemudian mengambil tanah yang ia butuhkan. Tanah bukanlah saudara laki-lakinya tetapi musuh. Jika ia telah menguasai tanah tersebut maka iapun akan melanjutkan perjalanannya.

      Ia meninggalkan kuburan ayahnya dengan tak acuh. Ia menjarah bumi milik anak-anak dengan tak acuh. Kuburan ayahnya dan hak hidup anak-anaknya dilupakan. Ibunya, yaitu bumi dan saudara laki-lakinya, yaitu langit, diperlakukan sebagai barang dagangan yang dapat dibeli, dirampok dan dijual seperti kambing atau manik-manik yang berwarna cerah. Nafsunya akan menelan bumi dan hanya meninggalkan padang pasir.

      Saya tidak tahu. Jalan kami berbeda dengan jalan Tuan. Pemandangan kota-kota tuan menyakitkan mata orang kulit merah. Mungkin karena orang kulit merah adalah orang biadab yang tidak mengerti.

      Tidak ada satu tempatpun yang tenang di kota-kota orang kulit putih. Tidak ada tempat untuk melihat mekarnya daun pada musim semi atau gesekan sayap serangga. Mungkin saja karena saya orang yang biadab dan bodoh. Kebisingan kota hanya mengusik telinga, dan apalah artinya kehidupan jika orang tidak dapat mendengar teriakan kesepian burung whippoorwil atau celoteh katak di sekeliling kolam pada malam hari? Saya hanyalah seorang kulit merah yang tidak tahu apa-apa.

      Orang Indian lebih menyenangi suara lembut dan aroma angin yang berdesir di atas permukaan kolam, yang dibersihkan oleh hujan siang hari, yang diimbuhi wewangian dari pohon cemara.

Berharga

      Udara sangat berharga bagi orang kulit merah, karena semua berbagi nafas dengannya, binatang, pohon, dan manusia. Orang kulit putih tidak memperhatikan udara yang dihirup. Seperti orang yang sudah mati beberapa hari, ia kebal dengan bau busuk.

      Jika tanah ini kami jual kepada Tuan, Tuan harus ingat kalau udara sangat penting bagi kami, kalau udara membagi esensinya dengan semua yang ia tunjang kehidupannya. Angin yang memberi nafas pertama kepada kakek kami juga menerima nafas terakhir darinya. Jika kami menjual tanah kepada Tuan, Tuan harus memisahkan dan memuliakannya sebagai tempat di mana orang kulit putihpun dapat menikmati angin, yang dipermanis oleh aroma bebungaan padang rumput.

Satu Syarat

      Jadi kami akan mempertimbangkan permintaan Tuan untuk membeli tanah kami. Jika kami setuju, saya mau mengajukan satu syarat. Orang kulit putih harus memperlakukan binatang-binatang di atas tanah ini sebagai saudara laki-laki. Saya orang biadab dan saya tidak mengerti cara lainnya.

      Saya telah melihat ribuan kerbau yang membusuk di padang rumput, ditinggalkan begitu saja oleh orang kulit putih yang menembakinya dari kereta api yang sedang berjalan. Saya orang biadab dan tidak mengerti betapa kuda besi berasap dianggap lebih penting daripada kerbau yang kami bunuh demi hanya untuk menyambung kehidupan.

      Apalah artinya manusia tanpa binatang? Jika semua binatang punah, manusia akan mati karena kesepian yang luar biasa. Karena apapun yang terjadi pada binatang akan terjadi pula secara cepat pada manusia. Semua hal saling bertalian.

Abu

      Tuan harus mengajari anak-anak Tuan kalau tanah di bawah telapak kaki mereka adalah abu dari kakek-kakek Tuan. Agar mereka menghargai tanah, ceritakanlah kepada mereka kalau bumi ini kaya dengan kehidupan. Ajarkanlah kepada anak-anak Tuan seperti kami mengajarkan kepada anak-anak kami, bahwa bumi adalah ibu kita. Apa yang terjadi pada bumi akan terjadi pada anak-anak kami. Jika orang meludahi tanah maka ia meludahi dirinya sendiri.

      Yang kami ketahui bumi tidak dimiliki orang. Oranglah yang dimiliki bumi. Kami tahu, semua hal saling bertalian. Seperti darah yang menyatukan keluarga. Apa yang terjadi dengan bumi akan terjadi pada anak-anak kami. Manusia tidak merajut jaring-jaring kehidupan. Ia hanyalah bagian kecil dari padanya. Apa yang ia perbuat terhadap jaring kehidupan adalah tindakan yang dilakukan terhadap dirinya sendiri. Bahkan orang kulit putih, yang Tuhannya berjalan dan berbicara dengannya seperti teman kepada teman tidak dapat dikecualikan dari nasib bersama. Kita semua akhirnya bersaudara. Kita akan melihatnya. Satu hal yang kita ketahui, yang pada suatu hari akan disadari pula oleh orang kulit putih, Tuhan kita adalah Tuhan yang sama.

      Sekarang Tuan boleh berpendapat bahwa Tuan memiliki Dia, sebagaimana Tuan ingin memiliki tanah kami. Tetapi tidak mungkin Tuan memiliki Dia sendiri. Dia adalah Tuhan dari semua manusia, yang perhatiannya sama besar baik kepada orang kulit merah maupun orang kulit putih. Bumi ini amat berharga bagi Dia. Merusak bumi akan membangkitkan balas dendam Sang Pencipta. Orang kulit putih juga akan lenyap, mungkin lebih cepat dari suku-suku lainnya. Kotorilah ranjang Tuan, maka pada suatu malam Tuan akan tercekik oleh kotoran Tuan sendiri.

      Pada saat Tuan mati, Tuan akan besinar terang, dibekali kekuatan Tuhan yang membawa Tuan ke Tanah ini, untuk tujuan istimewa memberi Tuan kekuasaan atas tanah ini dan atas orang kulit merah.

      Takdir adalah suatu misteri bagi kami, karena kami tidak tahu kapan semua kerbau habis disembelih, kuda liar dijinakkan, sudut-sudut rahasia hutan dipenuhi bau orang banyak, dan bukit-bukit dipenuhi kabel-kabel berbicara.

      Dimanakah semak belukar? Hilang
      Di manakah elang? Lenyap
      Di sinilah kehidupan berakhir
      Dan kehidupan baru pun dimulai!

Taken from A Speologi Book in Astacala - Bumi Ini Berharga
Bandung, November 2006

Dan Damai di Bumi

    Berkelana ke negeri-negeri eksotis. Menjelajah ujung-ujung dunia. Aku menyukai berbagai cerita petualangan. Mengagumi kisah-kisah kepahlawanan dan membela kebenaran serta persahabatan tulus ikhlas yang mengharukan tanpa mempermasalahkan perbedaan. Kadang tersedu, terhanyut dalam latar alam menjelajah pelosok bumi. Atau kadang ikut pula tersenyum melihat budaya manusia di berbagai belahan dunia.
    Dari belahan dunia timur sampai barat. Dengan tokoh yang berbeda. Menjelajah dari satu tempat ke tempat lain. Dengan alur cerita sambung menyambung.
    Banyak hal yang bisa dipetik dari cerita kepahlawanan dan petualangan. Membacanya seperti ikut membawa kita menjejakkan kaki di berbagai latar ceritanya yang beraneka ragam. Tidak saja mengajarkan tentang petualangan, persahabatan, dan kecerdikan. Tetapi juga mengajarkan cinta dan kasih sayang terhadap sesama dan alam lingkungan. Mengajarkan banyak kebajikan. Pesan moral dan budi pakerti yang luhur. Dengan berbagai jalinan suku bangsa, ras, agama, dan berbagai nasionalisme.
    Seorang yang berkelana akan mempelajari banyak hal. Ia tidak akan mudah untuk mempercayai sesuatu. Semua akan dipelajari. Karena kehidupan adalah proses belajar yang tiada henti. Alam dan isinya adalah guru terbaik. Rasa ingin tahu dan mengeksplorasi akan tertanam. Keinginan untuk berbagi dan menempatkan diri sebagai orang lain. Atau menempatkan diri sebagai mahluk lain. Bagaimana kalau seandainya kita menjadi mereka? Pada dasarnya apa yang orang lain rasakan adalah sama dengan apa yang kita rasakan.
    Seperti kisah-kisah yang ditulis oleh Karl May, sang jawara cerita perjalanan yang nyaris ensiklopedi dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Mengetahui berbagai keajaiban dunia tanpa menginjakkan kaki di tempat yang bersangkutan. Ternyata banyak sekali keindahan dan keanekaragaman di bumi ini. Suatu waktu mungkin aku akan mengunjungi tempat-tempat ceritanya. Berkelana di belahan Amerika bersama Winnetou si indian kulit merah dan sahabatnya Old Shatterhand si kulit putih. Mengarungi padang-padang prairi. Menyeberangi Sungai Missisipi. Bagaimana kita diajarkan untuk menghargai alam layaknya kita menghargai ibunda kita, hidup berdampingan, menjunjung perdamaian, petualangan mencari harta karun, serta tragedi penindasan dan kepunahan suku Indian. Mengukur tanah untuk jalan kereta api, perampasan tanah, perbudakan, tambang merkuri, pipa perdamaian, menangkap kuda mustang, berburu bison, membunuh beruang grizzly, membuat hujan di gurun, mencari jejak, melempar tomahawk, menembak di kegelapan, membuat pesawat terbang, dan sebagainya.
    Atau berkelana di Timur Tengah bersama seorang kristiani Kara Ben Nemsi, bersama sahabat muslimnya Haji Halef Omar. Menjelajah dari Afrika Utara, Mesir, Semenanjung Arabia, Mekah, Irak, Iran, Kurdistan, Libanon, Turki Eropa, Bulgaria, Macedonia, Albania, dan kembali ke Palestina. Menjelajahi negeri 1001 malam yang bukan khayalan. Mengetahuinya ibarat berkelana di belahan dunia. Layaknya bertemu dengan semua umat manusia dan mahluk ciptaanNya. Bertemu dengan Muslim Sunni, Muslim Syiah, Kristen Ortodoks, Kristen Chaldean, Agama Kaum Jesidi, dan sebagainya. Perjalanan ke Mekah, menembus pasir hisap, melawan penyakit maut pes, berpetualang di Kurdistan, mengenal kuda arab dan rahasianya. Pedang Damsyik yang sanggup memotong besi, permusuhan abadi di Balkan, kebudayaan orang Arab, mencari peninggalan purbakala Irak, Jamur Truffle, dan sebagainya.
    Dan akhir-akhir ini aku memang senang mengagumi cerita-cerita perjalanan Karl May tersebut. Yang sarat dengan petualangan dengan berbagai latar alam dan nilai-nilai moral bagi umat manusia. Tentang bagaimana kita menghargai lingkungan. Alasan kenapa kita tidak boleh membunuh. Tidak boleh memusuhi orang. Dan yang paling menarik adalah sikap terhadap seseorang yang memiliki perbedaan dengan kita. Terhadap orang yang memiliki kepercayaan lain. Atau terhadap orang dengan darah yang berbeda. Ras yang berjauhan. Yang saat ini, di bumi ini,  sungguh banyak pertumpahan darah karena alasan itu. Baik di negeri sendiri, ataupun di negeri seberang. Seperti pertikaian di Poso ataupun pertumpahan darah di Palestina yang tak kunjung akhir.
    Dalam petualangannya, Old Shatterhand si kulit putih tidak pernah berpikiran picik. Dia menghormati kepercayaan semua orang lain. Atau yang tidak punya kepercayaan sama sekali. Inilah hal-hal yang bisa dipelajari ketika membaca kisah Winnetou. Mungkin karena jiwa kebebasan yang mengalir dari darah ayahku, maka cerita tokoh pahlawan yang diceritakan Karl May ini menembus ke hati sanubari. Yang mungkin akan berbeda dengan orang-orang yang baru beranjak dewasa, yang entah kenapa saat ini banyak sekali sekat-sekat mulai didirikan dan benih-benih kecurigaan ditanamkan. Yang mungkin berbeda dan sangat sensitif jika dibandingkan dengan orang-orang yang telah dibentuk oleh keyakinan-keyakinan setempat ataupun lingkungannya. Berbagai keyakinan sempit yang tak pernah bisa kumengerti, yang saling mencaci, saling memaki, dan saling menghancurkan, walaupun atas nama Tuhan penguasa alam semesta, keturunan terhormat sekalipun, suku bangsa, atau agama manapun di muka bumi ini.
    Kita pernah belajar yang namanya DNA. Siklus genetik dari tubuh manusia. Dari riwayat perubahan gen antara orang Afrika, Asia, Amerika, terlihat bahwa ternyata manusia itu satu saudara, satu keturunan. Padahal tanpa pengetahuan tentang itu pun kita seharusnya menyadari bahwa kita bersaudara. Begitu juga dari cerita tentang adam dan hawa yang menurunkan umat manusia.
    Tapi, lepas dari itu semua, tetap banyak juga alasan yang tak akan bisa kita mengerti kenapa ada saja pertikaian di muka bumi. Alasan yang tak akan pernah bisa diterima dan kenapa itu harus terjadi. Takdir merupakan misteri. Semuanya adalah misteri. Mengapa manusia hidup dan kenapa manusia mati? Ada hitam, ada putih. Ada lelaki, akan ada perempuan. Ada baik, tentu saja ada jahat. Ada kedamaian, ada juga peperangan. Semua punya pasangannya dalam kehidupan ini. Semuanya pasti berbeda. Tapi bertalian satu sama lainnya. Warna di dunia memang beragam. Kenapa seperti itu?
    Lihatlah. Yang kutahu bumi ini begitu indah. Layaknya bunda tersayang yang memelihara anak-anaknya. Langit biru yang selalu memayungi dunia. Layaknya ayah tercinta yang akan selalu melindungi putranya. Kita semua adalah milikNya. Ditakdirkan bersama sebagai satu keluarga. Sebagai satu saudara. Di sebuah rumah yang bernama bumi. Dengan berbagai problema di dalamnya. Yang menuntut kita untuk bisa bijak mengatasinya. Mengarungi setiap indahnya. Memahami setiap gelapnya.
    Dan begitulah. Semoga damai selalu di bumi. Saya telah berbicara. Howgh!

Inspirated from Karl May - All of Books
Bandung, November 2006

Ketika Hari Itu Tiba (Her Weddings Day)

    Kawanku bercerita tentang dirinya. Tentang pohon, yang membiarkan daunnya terbang terbawa angin. Kenapa? Penyesalan itu selalu menakutkan? Kadang kita tak tahu apa yang harus kita lakukan. Tapi hati kita biasanya memiliki kekuatan untuk menerka apa yang mungkin akan terjadi. Dan ada kalanya kita tak mau ambil peduli. Kadang membiarkannya berlalu begitu saja. Padahal dengan melakukan suatu langkah kecil, kita bisa mengubah segalanya. Kenapa ya? Kadang hal yang kita tahu itu, tidak kita lakukan? Dan itu termasuk aku juga.
    Percaya nggak kamu dengan suatu perasaan aneh yang bisa menggambarkan sesuatu di masa depan. Dan entah hanya perasaan atau itu hanya ilusi, entahlah, kadang hal itu ada juga. Pada diriku. Mungkin juga pada dirimu. Ketika kita menerka-nerka, apa yang akan terjadi suatu hari nanti.
    Seperti misalnya kita mengkhawatirkan sesuatu. Yang sebenarnya sudah bisa kita terka. Saat kita masih berharap. Dan waktu yang dimiliki semakin sedikit. Bertanya dan bertanya. Sampai kapan?
    Memang menyedihkan kalau seandainya kita menakutkan sesuatu. Dan itu pun terjadi. Mau tidak mau. Tidak ada pilihan lain. Saat itu akan tetap terlewati. Dan itu juga terjadi karena langkah-langkah sebelumnya yang kita ambil.
    Dulu, kita mungkin punya mimpi. Punya harapan. Yang indah tentunya. Di lain pihak, ada juga mimpi buruk yang kita takutkan. Dan saat inilah waktu terwujudkannya. Karena masa depan dari masa lalu kita adalah hari ini.
    Bagaimana kalau seandainya harapan kita tak sesuai kenyataan? Dan malah hal buruk yang kita takutkan yang terjadi? Seperti saat ini. Ketika kamu bercerita padaku. Ketika kamu menjadi bersedih. Pilihanmu menjadi semakin sedikit. Bahkan tidak bisa memilih lagi. Itu nyata. Dan memang terjadi. Dan nggak mungkin lagi kamu miliki.
    Sebenarnya aku enggan untuk mengutarakan tentang cinta di sini. Tapi ceritamu toh tentang itu. Dulu. Sekali lagi dulu. Yang tak bisa kita raih lagi. Banyak orang-orang di sekitar kita. Saat masih bersama mereka, kita tertawa, atau kadang kita menangis. Semuanya berjalan. Biasa saja. Dan ada kalanya kita tak begitu memperdulikannya. Karena kita masih bisa bersama mereka.
    Tetapi sekarang ketika mereka tak ada, atau mungkin hilang, masa itu menjadi sangat berharga. Orang-orang di sekitar kita itu sungguh tak terlupakan. Kita malah menjadi bersedih, ketika tahu mereka tak ada lagi bersama kita. Walaupun seandainya masih bisa bersama, tapi suasananya tentu saja berbeda. Sekarang bukan lagi dulu kawan.
    Suatu kesempatan yang kalau kita pikir-pikir lagi adalah hal yang sangat hebat bagi kita ketika kita mau mengambilnya. Tapi apa pada kenyataannya? Seringkali kita egois, malu, malas, atau enggan untuk melakukan hal yang sebenarnya adalah yang terbaik buat kita. Dan ujung-ujungnya akan timbul suatu penyesalan. Dan di manapun atau kapanpun, bagiku penyesalan merupakan suatu hal yang sangat menakutkan.
    Kembali lagi tentang cinta, tentang pohon, tentang daun, tentang angin, dan tentang penyesalan yang kamu ceritakan. Mungkin cerita tentang kamu. Atau tentang temanmu. Atau tentang aku. Atau tidak tentang siapa-siapa. Hanya sebuah tokoh dalam hidup ini. Dan kusebut saja itu kamu, karena kamu yang telah bercerita kepadaku.
    Ketika kamu masih memiliki kesempatan bersama pujaan hatimu. Seseorang yang sangat begitu memperhatikan kamu. Selalu ada dalam kebersamaan denganmu. Ketika kamu dalam kesulitan, rela melakukan apa saja untukmu. Atau ketika kamu pergi, dia menangis menunggu. Yang kamu tahu ketika ia masih bersamamu, kamu acuh tak acuh. Tak begitu peduli. Padahal jauh di dalam hati, kamu selalu berkata, ia sungguh begitu berarti.
    Seseorang yang selalu bersamamu. Mungkin hanya seorang sahabat. Semasa kecil. Melalui hari bersama. Yang selalu dengan gembira kamu bercerita tentang kisahnya. Aku tak begitu tahu. Yang ternyata, tanpa diduga, kamu telah jatuh hati padanya. Hanya saja enggan untuk memilikinya. Mengatakannya. Begitu ceritamu. Sekali lagi ceritamu. Padaku.
    Dengannya kamu bercerita tentang hidupmu. Bercerita tentang keberhasilanmu, kehebatanmu. Bercerita tentang segala keluh kesahmu. Bercerita tentang pacar-pacarmu. Atau dengannya kamu menceritakan bagaimana kisah ciuman pertamamu.
    Beugh... dan itu terlihat di matanya, begitu mendengar ucapanmu. Ia begitu memperhatikanmu. Dan selintas terlihat ada kesedihan di matanya. Tentang beda sosial yang ada, tentang cinta sejati yang tak pernah terucap, yang sebenarnya saat seperti itu adalah waktunya. Padahal kamu sangat tahu itu. Kita tahu itu. Masih saja kamu tak mau peduli.
    Dan ketika waktu berjalan dan berganti. Ia pun juga bercerita. Angin datang menerpa. Layaknya seperti cerita yang kamu ceritakan padaku. Pujaan hati telah datang menghampiri. Seorang pujaan yang baik hati dan begitu mencintai. Kamu mendengarkan ceritanya. Dan kamu tak bisa memperlihatkan sakit hati saat itu. Malah acuh tak acuh. Seperti membiarkan begitu saja. Tegar seperti karang, padahal hati hancur bukan kepalang. Ia pun sedih melihatmu seperti itu. Padahal mungkin ia berharap melihatmu untuk melakukan sesuatu. Tapi..., sudahlah, begitu katamu. Seperti mengulur waktu demi waktu. Aku masih ingin bersama yang lain. Berdendang dan bernyanyi. Suatu hari nanti, aku akan mengatakannya, dan hidup bersamanya, begitu jawabmu.
    Bodoh sekali kamu membiarkannya begitu saja. Itu menurutku tentangmu. Walaupun kalau aku menjadi kamu, bisa saja hal serupa juga kulakukan. Cuma, kenapa membiarkan itu berlalu. Bukankah dia begitu berharga untukmu? Tanyaku, sampai kapan?
    Saat ini harus kamu lakukan, kataku. Tapi, kamu masih mengulur waktu dan membiarkan semuanya berlalu. Masih ada waktu, katamu. Ya sudahlah.
    Suatu hari, kamu bercerita lagi, ternyata yang lebih menakutkan akhirnya terjadi. Hari itu tiba.
    Beugh... Menangislah dirimu. Sudah terlambat. Apa artinya hidupmu. Seumur hidup membiarkannya berlalu.
    Tatapan matanya menyejukkan. Helai rambutnya mempesona. Senyumnya manis, menghias wajahnya. Masa-masa yang telah lalu. Saat dengan suka cita kamu berbagi cerita bersamanya. Semua itu baru kamu kenang sekarang. Ketika ia mengucapkan selamat tinggal dengan mata yang berlinang. 
    Dan ketika hari itu akhirnya tiba, kamu akhirnya tak bisa untuk menahan air mata. Harapan suatu hari nanti kamu akan mengatakannya. Harapan suatu hari nanti kamu akan bersamanya. Hilang sudah. Masa yang kamu takutkan itu pun terjadi. Yang sebenarnya telah kamu tahu. Dan bisa dilakukan supaya mimpi burukmu itu tak terjadi. Tapi, sudahlah. Toh itu telah terjadi. Menangislah. Sampai mati pun tak kan bisa mengubah lagi.
    Hhhh... seperti telenovela saja. Akhirnya cerita tentang angin yang menerbangkan daun dari pohon membuatmu menangis dan menyesal. Sudah terlambat. 
    Penyesalan itu memang selalu menakutkan. Semuanya sudah punya jalannya sendiri. Dan itu mungkin telah menjadi jalan untukmu, untuknya. Aku turut berduka. Walaupun aku juga tak tahu bagaimana aku harus menempuh jalanku. Setiap orang juga punya jalannya sendiri. Kadang duka, kadang suka. Dan kadang ketika kita tidak bisa berbalik lagi, untuk memilih sesuatu yang kita inginkan, hanya saja karena salah melangkah, atau mungkin terlambat melangkah, berubahlah semuanya. Masa depan tidak seperti yang kita bayangkan. Tidak bisa memenuhi harapan. Entah apa lagi yang akan terjadi suatu hari nanti. Semoga kita bisa selalu menjalani dengan sepenuh hati.
    Angin telah menerbangkan daun. Dari pohon yang membiarkannya pergi. Dan semua itu pun terjadi. Tak bisa dihindari. Hujan pun rintik-rintik. Membasahi lentik matamu. Mengalir ke sungai-sungai yang mengalir berkilau keemasan. Membawaku, membawamu, dirinya, dan mereka, berjalan seiring dengan waktu dan hari, yang terus berganti, dan tak mungkin akan bisa diputar kembali.

Bandung, Oktober 2006

Fenomena Blog

    Iseng neh gw nulis blog kaya gini. Nulis blog tentang blog. Soalne tadi abis baca blog temen tentang blog juga. Dan tiap hari, tiap kali gw cek email (yang lain juga pastinya sama klo punya acount di fs dan temen-temennya banyak punya blog), pasti banyak banget inbox dengan subject Si X has update his/her friendster blog.  Kadang gw iseng juga buat bacanya. Atau klo nggak begitu peduli, dicentang, trus delete. Hahaha.....  Dan klo blog yang bukan di fs, jarang gw baca atau gw perhatiin. Kan gw ga tau apakah diupdate ama pemiliknya atau belum (ga ada nottificationnya soalne coy). Tapi, klo ada waktu, temen-temen yang blognya udah lama juga masih sering gw kunjungi lagi buat dibaca. Contoh nyatanya ini neh. Gw nulis blog ini karena terinspirasi dari blog seorang kawan yang nulisnya udah berbulan-bulan yang lalu. Tentang alasan ngapain nulis blog.
    Iya... ya... Ngapain ya orang-orang nulis blog? Dan kalau gw pikir, dari sekian banyak blog temen-temen yang gw baca, isinya macem-macem. Mulai dari iseng cuman nyalin or copy paste lirik lagu band favorit atau artikel kesukaannya, atau nulis kejadian-kejadian sepele setiap hari, keisengan atau sekedar tulisan corat-coret ga jelas, curahan hati yang lagi sedih, senang, marah, jengkel, patah hati, etc dah.
    Emang itu semua penting gitu buat dibaca? Mmmm? Buat yang nulis penting pastinya lah walaupun mungkin tujuannya hanya sekedar iseng. Tapi klo buat yang lain?
    Dari sekian alasan yang ada, yang paling banyak kayaknya blog yang isinya tentang curahan hati penulisnya. Duile... Mulai dari yang sedih, yang marah, yang senang, yang lagi jatuh cinta, atau yang lagi patah hati.
    Nah yang isinya curahan hati ini nih yang menarik perhatian gw. Emang bener juga, dan ga habis pikir, apa yang kita harapkan dari menulis yang kayak beginian (curhat, red) di blog kita? Hehehe... Apa kita mengharapkan orang yang sebenarnya kita tuju itu langsung ngebaca n langsung bersikap? Walaupun bisa dibilang ga mungkin, tapi kemungkinannya untuk dibaca sih kayaknya tetap ada. Kecil lah. Kenapa bisa ga mungkin? Atau kemungkinannya kecil? Ya alasannya karena bangsa ini sebagian besar berbudaya malu dan menghindari blak-blakan. Plus gengsi yang memang merupakan penyakit sebagian besar orang, apalagi anak muda (payah deh klo udah pake gengsi).
    Begini nih contoh kecilnya gw kutip langsung dari pernyataan Si Mo Distortof aja (pengalaman pribadi neh kayaknya). "Coba dech klo misalnya kita ngebaca tulisan di blog salah seorang inceran kita... n terus ternyata di situ tertulis sesuatu yang seolah-olah terasa menunjuk langsung ke kita... Well in case... About love (baca : sesuatu yang sangat diminati manusia, red), terus biasanya bahkan seringnya kita nggak langsung bertindak.... Yang artinya kita masih diliputi rasa malu dan gengsi. Dan itu nge-akibatin tulisan yang sebenernya bermaksud itu seolah-olah gak mencapai sasaran. Klo begini berarti blog ini gak mujarab dunk... Wakakakakakak......!!!"
    Hahaha... Kacau juga nih. Blog... Blog... Emang nasibmu Log...
    Tapi, walaupun begitu, menurut gw, jangan patah semangat lah klo hanya ga begitu banyak alasan buat nulis blog. Toh segala alasan juga dari diri kita masing-masing. Minimal sebagai catatan sejarah kita lah. Sejarah pribadi. Siapa tahu ratusan tahun yang akan datang, kalau masih diberikan kesempatan untuk memiliki cucu atau cicit dari cicicitnya cicit kita (ga tau kan apa itu namanya?), mereka bisa tahu oh ternyata kita ini moyangnya yang pernah jatuh cinta ama si ini, atau patah hati karena si itu, atau ngefans sama band tertentu, atau suka nonton film tertentu, atau yang lainnya.
    Wah... Klo begini hebat juga blog ini. Hehehe... Blog... Blog... Salut gw ama lu Log...
    Tapi gimana klo web tempat postingan blog kita mati? Hahaha... hancurlah harapan untuk mengabadikan sejarah. Kasihan sekali dirimu Log...
    Tapi..., udahlah. Itu kan suatu kemungkinan buruk. Yang penting, apapun yang terjadi, klo mo nulis blog, nulis aja. Pasti ada gunanya walaupun kecil. Dan apapun yang kita tulis di blog, harapannya semoga selalu ada manfaatnya. So pastinya semua itu kembali lagi kepada diri kita masing-masing  untuk menilainya.
    Makin aneh aja. Udahlah. Hehehe... Blog... Blog... Kenapa lu membuat gw bingung mikirin elu Log...

Inspirated from Mo Distortof
Bandung, Sepetember 2006

Peri Kecil Bersayap Perak

        Aku ingin mencintaimu
        Dengan sederhana
        Dengan kata yang tak sempat
        Diucapkan kayu kepada api
        Yang menjadikannya abu

        Aku ingin mencintaimu
        Dengan sederhana
        Dengan isyarat yang tak sempat
        Disampaikan awan kepada hujan
        Yang menjadikannya tiada

 
        Ada pelangi ketika itu. Menuntun untuk belajar lagi lebih banyak. Ternyata seperti itu. Dan kenapa rasa itu ada. Entahlah. Dan ketika itu pula aku tak ingin terhanyut. Indah. Memang benar hidup itu harus dijalani. Setiap hari dengan sepenuh hati. Aku tak sepenuhnya bisa mengerti. Ada senyumnya di sana. Dan di antara belaian batas-batas hutannya. Di dalam ramahnya api unggun yang membara. Aku bawa dan terima itu semua. Antara senyum dan tawa. Terima kasih.
        Waktu mengalun setiap hari. Apaan sih? Ternyata semua yang tak terpenuhi punya arti sendiri. Indah ya. Pelangi di atas sana. Saat ini aku terlena. Pucuk-pucuk cemara yang menghijau. Membangkitkan luka yang indah. Ingin kembali. Atau hanya berselang beberapa minggu yang lalu. Atau mungkin bertahun-tahun yang lalu.
        Kenapa. Ada yang menyenangkan. Di sela-sela senyumnya. Di batas-batas jurangnya. Aku rindu. Hei. Aneh. Ketika aku buka lagi sekian waktu ke belakang. Masihkah itu ada. Apapun yang terjadi. Hanya akan kujalani. Setiap hari dengan sepenuh hati.
        Ketika sayup-sayup alunan melodi dari kesunyian itu membangunkan. Nggak? Atau iya? Sebaiknya jangan. Jaga rasa itu. Di batas-batas malam yang sudutnya berbeda. Hei, kamu lagi jatuh cinta ya?
        Bintang-bintang. Dingin sekali malam ini. Ingin kunyanyikan sesuatu. Ditemani gemericik air terjun kecil di sana. Atau aku ingin terlelap. Membiarkan semuanya berlalu.
        Padahal sebenarnya, aku merasa tak berarti. Bukan saja dari senyumnya. Jauh dari semuanya. Aku jadi membayangkan suasana rumah dan rumah lagi. Dan saat-saat seperti ini aku di sini. Di mana mereka? Aku rindu. Lembayung Bali. Nan indah. Benarkah? Padahal setiap orang mungkin mengalami hal yang sama.
        Dan senyumku bangkit lagi. Ketika aku tahu mereka ada untukku. Semua teman dan malaikat di jalanku. Tapi kadang redup lagi. Ketika tahu mereka tak di sampingku. Kok jadi sedih. Nggak. Cuman tiba-tiba aja bisa teringat mereka.
        Waktu terus berputar. Itu saja. Setiap saat pasti terlewati. Dan tak bisa dihindari.
        Kembali lagi kepadamu. Peri kecil bersayap perak. Senyummu manis. Di antara semilir angin di padang rumput dan kepakan sayap burung-burung sabana. Aku mulai berharap baik-baik saja. Di antara pucuk-pucuk dedaunan dan air yang mengalir. Aku mulai takut terbawa cinta.
        Hei, sudah hampir subuh. Sudahilah. Walaupun hanya sampai di sini. Esok atau lusa disambung lagi. Biarkan air itu mengalir sampai jauh. Dan kabut menuntunmu sepenuh cinta, ke ujung-ujung langit.

Poem Lyrics Taken from Sapardi Joko Damono
Bandung, Agustus 2006

Tunjukkan Jalan Itu Padaku

                Saat melihat jalan itu. Darahku berpacu. Misteri itu menunggu. Adrenalin berontak kuat. Tak ingin hidup tenang. Aman duduk berleha di dalam rumah. Dan misteri itu selalu menunggu. Ketakutannya membayangi. Tapi segala keingintahuan tak ingin dilepaskan dan dikalahkan. Salahkah itu?
                Sombong? Mungkin.
                Sok? Mungkin juga.
                Tak hanya itu. Di dalam dunia ini. Semuanya. Di alam semesta ini. Masih indahkah hidup itu jika semua yang kau mau dan yang menjadi mimpi itu sudah kau punya ? Kenapa ?
                Hidupku dan hidupmu. Yang mungkin identik. Atau mungkin ada perbedaan. Mungkin kecil. Atau mungkin cukup lebar. Dari kecil hidup dalam belaian orang tua. Bersekolah. Belajar yang rajin. Jadi juara. Jadi anak yang soleh. Taat. Kuliah. IP melangit. Kemudian lulus. Wisuda. Dengan predikat cum laude. Lalu bekerja. Di perusahaan ternama. Gajinya berjuta. Nikah. Kawin. Punya anak. Jadi tua. Duduk di kursi roda. Dan kemudian menunggu ajal.
                Siklus hidup yang indah. Begitu katanya.
                Tak adakah yang lain?
                Katanya hidup itu penuh teka-teki. Teki-teki silang. Berbagai persoalan menghiasinya. Kotak-kotak jawabannya yang selalu menanti. Banyak yang benar dari jawaban untuk setiap persoalan. Tak selalu benar yang dibutuhkan. Tapi tepat itu pasti. Untuk bisa mendukung berbagai persoalan pada kotak-kotak yang lain. Dan disebutnya itu kebijaksanaan. Identik dengan hidup di dunia.
                Katanya hidup itu penuh dengan mimpi. Yang menjadikan setiap kita punya harapan. Entah untuk apa. Dan setiap mimpi dan harapan akan penuh dengan hal-hal yang mengejutkan. Setiap langkah yang dilakukan. Akan membawa setiap kita pada kematangan, kemandirian, dan proses untuk menuju akhir. Dan, yang pasti bukan berkutat pada akhir. Tapi proses untuk akhir itu. Maka tetaplah bermimpi. Karena semua itu suatu saat akan menjadi kenyataan.
                Saat melihat jalan itu. Ketika hidup ada pada batasnya. Dekat dengan surga. Mungkin juga neraka. Ketika luka masih dibawa. Ketika dosa-dosa tersenyum menyapa. Ketika banyak keinginan yang belum tercipta. Ketika beribu mimpi belum memberi arti. Sejuta tanya menghadang untuk dijawab. Dalam waktunya yang sempit.
                Ketika hidup ada di ujung ajal. Ingatkan pada ibu yang selalu menyayangiku. Yang tak sanggup aku melihatnya menangis. Pada bapakku yang selalu ingin membuatku bahagia. Masih bisakah untuk mengucapkan maaf dan terima kasih atas segala tindak dan segala ulah? Masih punya waktukah aku untuk menangis di pangkuannya?
                Ketika dingin. Cahaya putih yang indah menunggu. Ingatkan pada gadis impian. Yang menanti dengan cemas dan harap. Yang kalau ia mau, dengan wajahnya yang manis tentu tak sulit mendapatkan pengganti. Pada semua teman dan malaikat yang ada di putaran jalanku. Yang selalu bermain dengan waktuku. Masih bisakah aku memberikan sesuatu yang pernah kujanjikan? Masih sempatkah aku mengembalikan milikmu yang pernah kaupinjamkan?
                Ketika dingin. Sunyi. Menderu kalbu menjadi hawa panas. Aku menggeliat. Ingin melupakan ketersesatan itu. Aku menggeliat lagi. Di mana jalan itu? Tunjukkan padaku!
                Ternyata mimpi.  Aku terbangun. Mendapatkan diriku terdampar di sebuah tempat.  Di sebuah sudut bumi ini. Di malam ini. Tak ada yang peduli. Sendiri. Sunyi. Sepi. Dengan ribuan problema yang menari-nari. Menghimpit menusuk hati.
                Aku menggeliat lagi. Dan tak ada yang peduli. Aku bermimpi di tempat ini. Tercipta dari ingin dan segala harapan. Tersesatkah aku ?

Bandung, Agustus 2005

Save the World (Satu Langkah Kecil)

                ketika pohon terakhir telah ditebang
                dan air terakhir telah diminum
                saat itu kita sadar
                bahwa uang tak dapat dimakan

                Petikan kata itu aku baca pada sebuah papan yang dipasang oleh polisi hutan di suatu gunung yang pernah kudaki. Sederhana memang. Tapi mempunyai arti yang dalam kalau dipikirkan lebih jauh lagi. Atau mungkin hanya sekedar tulisan tak berarti jika kita tak mau ambil pusing. Tapi aku diajarkan untuk membuat semua yang aku miliki dan yang aku alami memiliki arti. Walaupun kecil, semoga selalu memiliki arti.
                Ketika aku SD dan SMP, aku mengikuti yang namanya Pramuka. Waktu SMA, aku ikut yang namanya Sispala. Waktu kuliah, aku juga ikut yang namanya Mapala. Organisasi yang mengatakan bahwa dirinya adalah sebagai penggiat alam terbuka, petualang, pembela dan aktivis lingkungan.
                Tapi, entah kenapa. Makin banyak aktivis dan pembela lingkungan makin banyak lingkungan yang menangis. Makin banyak aku berkegiatan alam terbuka, makin banyak aku berpetualang, makin banyak aku berkunjung ke suatu tempat, makin banyak aku tahu bahwa tempatku di bumi ini makin menyedihkan.
                Penebangan hutan, pencemaran air, udara, sampah, krisis energi. Dan entah apalagi.
                Hutanku makin sempit. Sungaiku makin kotor. Udaraku makin pengab. Makin panas. Dan jiwaku makin merana melihat semua itu. Aku kecewa.
                Mungkinkah aku bisa bermain-main lagi di gunung, di hutan, di sungai, di tebing, sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh tahun lagi.
                Atau, jika aku masih diberi kesempatan, untuk memiliki anak, cucu, cicit, dan penerus-penerusku nanti dari orang yang aku cintai, masihkah mereka bisa untuk melihat bahwa bumi ini masih indah. Hutannya masih lebat dengan berbagai tumbuhan menghijau dan beraneka satwa di dalamnya. Sungainya masih mengalir jernih tanpa limbah yang membuat hati enggan dan tanpa banjir di musim penghujan. Tebingnya masih bisa dijamah tanpa ada gangguan mesin-mesin baja yang mengambil batunya atau gedung-gedung pencakar langit yang di kemudian hari akan menggantikannya.
                Sering aku berpikir dan kecewa. Melihat banyaknya manusia-manusia bersifat kapitalis berlebihan. Hidup, belajar, dan bekerja tidak lagi untuk keuntungan yang bersifat moral dan cinta kasih antar sesama dan lingkungan tempatnya hidup. Tidak lagi untuk keuntungan yang memberikan tempat bagi manusia untuk hidup berdampingan dan untuk bisa menikmati semua isi dunia dengan cukup. Tidak berlebihan.
                Sekarang, di masa ini, dan entah nanti, kapitalisme yang berlebihan banyak kutemui. Hidup, belajar, dan bekerja hanya untuk keuntungan ekonomi belaka. Prinsip dengan waktu yang sedikit untuk mendapatkan keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Tak ayal lagi, semua isi bumi dikuras habis tanpa memperhitungkan kesanggupannya untuk menyediakan gantinya lagi. Tanpa memperhitungkan rezeki penerus di masa nanti. Semua isi bumi digali. Dibabat habis. Dijual. Uangnya ditumpuk berjuta-juta, bermilyar-milyar. Yang sebenarnya semua itu kalau dikelola dengan bijak adalah cukup.
                “Lebih baik memiliki sedikit dan cukup tapi berarti, daripada memiliki banyak tapi tak ada arti.” Andai semua orang mengerti. Kalau cukup dan berarti itu indah. Walaupun aku tak memungkiri kalau aku sering tergoda untuk memiliki banyak dan lebih.
                Sebenarnya, aku, kamu, atau kalian bisa untuk tetap menjaga bumi ini. Satu tindakan kecil aja. Sekali lagi, “satu tindakan kecil”. Nggak usahlah terlalu jauh-jauh memikirkan hutan, sungai, atau tebing yang tidak setiap hari akan kita temui sebagai manusia yang hidup dalam gemerlap peradaban kota. Atau memikirkan orang-orang yang berkutat dengan eksplorasi demi uang belaka.
                Satu tindakan kecil aja. Setidaknya satu tindakan untuk dirimu sendiri. Atau satu lingkup kecil di sekitarmu. Apa aja. Tidak konsumtif kek. Buang sampah pada tempatnya kek. Tanam pohon kek. Atau kek kek lainnya yang bisa menjaga kelestarian bumi ini.
                Satu contoh misalnya. “Buanglah sampah pada tempatnya”.
                Mungkin tulisan itu “basi”. Atau mungkin akan ada yang ketawa membacanya. Acuh tak acuh. Peduli amat.
                Aku tahu, walaupun aku membuang sampah pada tempatnya, hal itu tidak akan mengurangi jumlah sampah yang merajalela. Tapi,  kalau aku berpikir, setidaknya hal itu bisa untuk tidak menambah jumlah sampah yang ada. Atau, minimal lingkungan sekitar kita enak buat dilihat karena sampah-sampah sudah diletakkan pada tempat yang benar.
                Dan... sebenarnya banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan bumi ini. Satu langkah kecil aja. Satu langkah yang bisa kau mulai dari dirimu sendiri.
                Bayangkan kalau semua orang melakukan suatu langkah kecil untuk tidak membuang sampah sembarangan. Melakukan langkah kecil untuk menanam pohon. Melakukan suatu langkah kecil yang berguna. Melakukan langkah-langkah kecil untuk tidak ikut menambah kerusakan di bumi ini. Dan semua langkah itu disatukan. Mungkin bumi ini akan tetap indah sampai waktunya kelak ia memang harus menutup mata.
                Semoga hutanku masih tetap menghijau, airku terus mengalir, udaraku selalu meneduhkan, dan bumiku masih menghidupkan.
                Semoga...

Bandung, Agustus 2005