Sebelum Melangkah ke Depan

     Kehidupan bagaikan perjalanan seorang pengelana. Setiap langkah yang dilakukan menciptakan banyak jejak yang ditinggalkan. Kisah yang indah mengisi hari ataupun tragedi yang menyayat hati.
     Sebelum melangkah ke depan, ada baiknya kita melihat ke belakang. Dari 365 hari yang telah kita lalui, setiap harinya memiliki cerita sendiri. Setahun sudah kita lewati. Banyak hal terjadi.  Telah mengunjungi berbagai tempat baru, orang-orang baru, pengalaman baru. Cerita tentang keluarga, tentang cinta, teman, maupun pendidikan ataupun karir.
     Mengenangnya semoga membuat kita bisa lebih baik di kemudian hari. Apapun itu, selama kita berpikir positif, semuanya adalah yang terbaik untuk kita. Suka ataupun duka.
     Dan di esok hari, melangkah di tahun yang telah berganti, berbagai cerita pasti telah menanti. Jika segala sesuatu memang harus terjadi, mau tidak mau, kita semua harus siap menghadapi. Memahami perjalanannya. Cerita kita di dunia akan selamanya terus mengalir sampai nanti.
     Selamat Tahun Baru 2008. Semoga harapan baru memberikan semangat baru untuk kita. Being happy. And I Love U all.

Jakarta, Desember 2007

                            

Buat Ibunda Tercinta

                                       
Foto2_5  Nada-nada yang indah
  Selalu terurai darinya
  Tangisan nakal dari bibirku
  Takkan jadi deritanya
  Tangan halus dan suci
  Telah mengangkat tubuh ini
  Jiwa raga dan seluruh hidup
  Rela dia berikan

  Oh bunda ada dan tiada dirimu
  Kan selalu ada di dalam hatiku

  Lyrics Taken from Potret - Bunda
  Jakarta - Desember 2007

Undangan

    Hari ini ada resepsi teman SMAku. Teman SMAku yang sudah menikah dua minggu yang lalu. Keduanya teman SMAku. Sabu dan Yeppi namanya. Beberapa waktu yang lalu aku ditelpon oleh Lompang (sobatku juga), mengatakan bahwa aku dapat undangan dari mereka. Katanya sebagian besar teman-teman seangkatan waktu SMA diundang. Wuih... Kayaknya resepsi ini bakalan jadi ajang reunian. Apalagi waktunya bertepatan dengan libur panjang akhir tahun. Sepertinya mereka sengaja memilih waktu resepsi mereka ke akhir tahun, agak jauh dari upacara pernikahannya sendiri (akad nikah -red).
    Sial... Aku jadi bersedih begini. Nggak bisa datang. Dengan berat hati. Memebayangkan kerja shift-shiftan ada nggak enaknya juga. Ketika orang pada kerja, aku liburan. Ketika orang liburan, aku yang kerja. Dan aku pun hanya bisa menelpon keduanya untuk mengucapkan selamat. Dan yang pasti, ketika mereka menanyakan kapan aku menyusul, hanya bisa kujawab "May", sambil tertawa.
    Flash back ke belakang, ternyata sudah sekian lama waktu berlalu. Kuingat satu persatu wajah dan nama teman-teman lamaku. Mulai dari yang sekelas sampai ke kelas lain dan jurusan yang lain pula. Sebagian besar masih kuingat. Dan parahnya, ada yang kuingat tapi kulupa namanya.
    Sepertinya semua sudah menemukan jalan hidupnya masing-masing. Dan kehadiran teman-teman lama, dulu, sedikit banyak telah berpengaruh dalam hidup kita sekarang. Masih dan ingin kulihat kembali, masihkah akan selalu bisa bersama-sama lagi. Melihat seragam putih abu yang dikenakan. Mengenang cerita-cerita penuh semangat dan romantika ketika SMA. Begitu menyenangkan.
    Sabtu sore seusai hujan. Aku hanya bisa membayangkan bagaimana saat ini teman-temanku penuh suka cita di acara itu. Hhhh... Happy wedding for you my friends. Wish all the best for you.

Jakarta, Desember 2007

Surat dari Bengkulu

    Rabu, 13 September 2007, aku naik angkot pulang dari Kampung Bali (lokasi aktivitas utamaku selama ini). Di angkot perbincangan hangat masih sekitar Pilkada Walikota dan Wakil Kodya Bengkulu yang berlangsung kemarin, Selasa, 12 september 2007.
    Isunya masih sekitar kemenangan sementara calon Ahmad Kenedi/Edison Simbolon, yang bersaing ketat dengan pasangan Chalik Efendi/Arifin Daud. Kondisi sedikit menghangat karena Chalik dan Kenedy adalah pasangan yang kini sedang berstatus sebagai Walikota dan Wakil yang sedang non aktif. Disinyalir (menurut versi umum), kemenangan Kenedy akan berbuntut dengan menyeret Chalik ke meja hijau atas kasus yang didugakan kepadanya selama ini.

...

    Pukul 17.00 WIB, bibi menyuruhku menangkap ayam piaraan kami untuk lauk sahur nanti. "Tangkaplah sore ini saja, biar bisa dikerjakan nanti petang." katanya.
    Aku perhatikan ayam jago yang akan kutangkap belum pulang. "Memang ayam jago ini agak bandel, sering gak pulang. Lebih baik disembelih saja." katanya pada Paman, tentang ayam yang akan kutangkap.
    Pukul 18.00 WIB, kulihat ayam yang kuincar sudah mulai berjalan pulang, kugiring ia supaya masuk ke kandang dan mudah ditangkap. Ayam yang lain sudah duluan masuk.
    Tiba-tiba aku lihat di beranda bibiku lari ke dalam, kalau tidak salah dengar Pamanku berteriak "Ada gempa....!!!"
    Rumah di komplekku ada tiga buah saja, satu baru dibuat tapi belum dihuni sama orangnya. Tiga keluarga dengan anak-anak masih kecil, seumuran SD.
    Aku belum begitu merasakan goncangan gempa.
    Lalu bumi mulai bergoyang halus, lama kelamaan agak keras dan kasar getarannya. Aku melihat rumah di hadapanku juga ikut bergetar hebat. Maka mulai terasa goncangan dahsyat itu.
    Tiga keluarga berlarian keluar beserta anak-anaknya masing-masing. Pamanku mendekap adikku yang terkecil, sedang bibi mendekap adikku yang tertua. Mereka bertiarap di atas tanah lapang yang kebetulan cukup luas di depan rumah kami. Aku dan abangku saja yang masih berdiri.
    Satu menit, berlalu goncangan masih mengeras dan menghebat. Sayup-sayup ada mulut yang melafalkan "Allahu Akbar...!!!", seperti kompak. Mulut-mulut yang lainnya pun secara spontan menucapkan kata yang sama. Aku merinding.
    Anak-anak mulai menangis di sela suara orang tua mereka yang berusaha menenangkan walau mereka sendiri kulihat sangat tidak tenang.
    Aku masih berdiri, sama seperti abangku. Kulihat abangku agak cukup tenang.
Lima menit berlalu, goncangan masih terasa keras. Aku berpikir, "Inikah akhir dari semua ini? Kiamat......!!!" Tapi kutepis jauh-jauh. Mau kiamat atau tidak yang penting kita harus berusaha untuk selamat.
    Tempat kami saat ini adalah tempat teraman. Rumah-rumah di sekeliling kami bergoyang sangat kentara, ada suara barang-barang berjatuhan dan mungkin pecah. Mobil yang diparkir di depan juga ikut bergerak sendiri.
    Kakiku mulai gemetar, agak kaku karena menahan posisi tubuh agar tidak jatuh. Hampir sepuluh menit, goncangan sudah mulai melemah, tapi tetap dengan ayunan yang halus dan tidak biasa. Aku seperti berdiri di atas perahu besar, sangat besar dan bergoyang dengan halus di atas permukaan air. Sungguh terasa demikian.
    Listrik semua padam. Aku mendengar isakan tangis ketakutan dari beberapa orang di sekitarku. Mungkin juga aku sudah juga begitu.
    "Coba telepon ibu di kampung!", aku menjagakan abangku yang masih trauma dengan kejadian barusan. Yang lain seperti tersadar dan mencoba menelpon, tapi semuanya gagal.
    Aku berinisiatif masuk rumah, mungkin mau sholat magrib dulu. Dengan penerangan seadanya, kutunaikan ibadah (mungkin untuk yang terbaik selama ini) ini seadanya juga. Tiba-tiba hpku bergetar tanda ada pesan masuk.
    Pengirim : Gejor. "Jim, lagi di mana? Bengkulu gempa. Lu masih aman kan ne?"
    Ah Gejrot, pikirku. Saudaraku, Astacala...
    Segera kubalas. "Aku aman saja, kami semua aman. Tolong kabari infonya, kami hilang kontak, listrik mati."
    Lalu ada jawaban "Info sementara gempa berkekuatan 7.9 SR telah terjadi. Berpusat di Bengkulu. Berpotensi tsunami. Lu ati-ati aja. Dapat dari Detik."
    Masya Allah, berarti barusan sudah terjadi gempa terkuat yang pernah kualami. 7,9 SR. Segera kami berembuk. Malam ini kami tidak ada yang tidur di rumah, buat bivak di halaman.
    Aku kemudian ditugaskan membeli lampu senter ke depan. Kuhidupkan motor dan memasuki jalanan utama Kota Bengkulu.   Jalanan hampir macet. Sirine peringatan tsunami sudah meraung-raung menambah suasana menjadi tegang. Di persimpangan banyak polisi menjaga kondisi agar tertib.
    Aku akhirnya mendapatkan lampu senter. Dari penjaga toko (yang satu-satunya masih buka) aku mendapat kabar, bahwa telah terjadi eksodus besar-besaran dari warga di pinggir pantai.
    "Ini menuju ke arah Panti...."
    Panti, pekikku. Itu adalah lokasi rumah kami. Berarti mereka ini semua akan menuju ke sana. Segera kuputar Honda Win-ku pulang. Ternyata, lokasi rumah kami adalah lokasi yang telah direkomendasikan untuk tempat evakuasi.
    Malam ini begitu menegangkan. Tapi aku sedikit terhibur dengan adanya telepon dan sms dari orang-orang terdekatku, orang yang kucintai. Mereka semua memberikan pompaan semangat yang tidak bisa kubayangkan dalam tulisan secuil ini.
    Malam kami lewatkan dengan suasana tegang, tidur tidak bisa sama sekali. Sebab gempa susulan masih sering terjadi.
    Lewat tengah malam, akhirnya listrik kembali hidup. Seperti juga menimbulkan kelegaan tiada tara kepada kami semua. Sebentar lagi kami akan makan sahur, dari ayam yang kutangkap tadi.
    "He... He... He... Masih mendingan makan ayam yang dimasak tergesa-gesa seperti ini daripada digoyang gempa...." seloroh pamanku yang juga memaksa kami untuk juga tersenyum.

...

    Kamis, 1 Ramadhan / 14 September 2007, pagi menjelang siang ini aku mendapatkan info tambahan baru dari kawan-kawan di Jakarta. Semuanya memberitakan, membantu keterbatasan kami dalam mengakses informasi yang putus karena listrik mati.
    Aku mengendarai motor berkeliling kota. Situasai sudah seperti biasa. Di Jalan Natadirja ada beberapa bangunan yang rusak berat, Masjid Babusalam, dealer Yamaha, dan beberapa ruko yang baru dibangun terlihat retak-retak hebat. Kantor Dinas Pariwisata juga terlihat atap genteng dan beberapa dinding keramiknya pecah dan berjatuhan.
    Membelok ke arah kiri, di Jalan Pembangunan. Gedung Bulog rusak berat, Gedung Pajak retak-retak. Di depan, masjid terbesar di Bengkulu, kubahnya juga terlihat retak. Lurus saja aku memasuki perkantoran Gubernur. Ada beberapa tenda dari Departemen Sosial sudah berdiri, ada beberapa pengungsi yang meninggalinya. AKu juga berpapasan dengan beberapa rekan wartawan dari berbagai media, cetak dan elektronik, juga tv.
    Kuteruskan perjalanku hingga mencapai warnet ini, dan kutulis kisah ini segenap kemampuan dan keterbatasanku mengingat.
    Aku belum sempat ke arah pantai.
    Sekian dulu.

...

    Salam duka dari Bengkulu.
    Jimbo.

Taken from Jimmi Piter - Gempa Besar di Bengkulu
Bengkulu, September 2007

Hari Bumi

    Setiap tahunnya, 22 April dirayakan sebagai Hari Bumi. Kenapa tanggal itu yang dipilih? Pada hari yang sama di tahun 1970, tercatat sekitar 20 juta orang di Amerika Serikat berunjuk rasa. Mereka berkumpul menyerukan keprihatinannya tentang perubahan iklim, pemanasan global, dan polusi lingkungan yang semakin tak terbendung. Sejak saat itu, kepedulian lingkungan dijadikan isu di seluruh dunia.
    Aksi bersih-bersih, penanaman pohon, ataupun tindakan sederhana seperti sekadar membeli produk daur ulang dan menggunakan kembali gelas plastik, banyak dilakukan orang untuk menandai hari ini. Rasanya tak cukup hanya di hari itu saja kita peduli kepada tempat kita berpijak. Hari Bumi boleh jadi awal, tapi kepedulian terhadap lingkungan harus jadi kebiasaan sehari-hari.
    Hari Bumi sendiri punya bendera bergambar foto planet bumi berlatar belakang biru tua. Foto yang diambil dari pesawat luar angkasa Apollo pada tahun 1969 ini dapat dijadikan bahan renungan buat kita semua. Akankah warna yang sama akan ditangkap kamera beberapa puluh tahun mendatang? Apakah warna bumi akan berubah jadi lebih suram akibat polusi? Apa yang akan mulai kita lakukan untuk bumi?
    Salam lestari! Salam hangat dari sini, sebuah tempat di sudut bumi.

History Taken from Tabloid Rumah
Bandung, April 2007

Aku Mau ... (Feminisme dan Nasionalisme)

    Kamu tahu motto hidupku? "Aku mau".
    Dan dua kata sederhana ini telah membawaku melewati gemunung kesulitan.
    "Aku tidak mampu" menyerah.
    "Aku mau!" mendaki gunung itu.
    Aku tipe orang yang penuh harapan, penuh semangat.
    Stella, jagailah selalu api itu!
    Jangan biarkan dia padam.
    Buatlah aku selalu bergelora.
    Biarkan aku bersinar, kumohon.
    Jangan biarkan aku terlepas.

    Panggil aku Kartini saja, itu namaku. Kami orang Jawa tidak punya nama keluarga. Kartini adalah sekaligus nama keluarga dan nama kecilku, dan "Raden Ajeng", dua kata ini menunjukkan gelar. Ketika aku memberikan alamatku... tentu tidak bisa hanya menulis Kartini, bukan?
    Aku sungguh mengenal seorang yang kukagumi, perempuan modern dan independen, yang melangkah dengan percaya diri dalam hidupnya, ceria dan kuat, antusias dan punya komitmen, bekerja tidak hanya untuk masyarakat luas, bekerja untuk kebaikan sesamanya. Keinginanku untuk berada di zaman baru seperti itu sungguh terasa panas dan bergelora. Ya, aku bisa katakan, meski aku tak pernah mengalaminya di Hindia, namun aku amat ingin berbagi dengan saudari-saudari yang berada nun jauh di sana, di Barat.
    Jika hukum yang berlaku mengizinkan, aku tak ingin apapun kecuali mengabdikan diriku secara utuh untuk melakukan hal-hal seperti yang telah dilakukan kaum perempuan di Eropa. Namun tradisi di sini sungguh teramat kuat mencengkeramku. Aku yakin, suatu hari nanti, cengkeraman itu akan merenggang, namun saat itu sungguh masih jauh, sangat jauh. Aku tahu saat itu akan tiba, tapi tidak tiga atau empat generasi setelahku! Oh, kamu tidak dapat mengerti dengan sepenuh hati dan jiwamu seperti apa rasanya menantikan zaman seperti itu, zaman baru, zamanmu. Sementara, pada saat yang sama, aku tak bisa lari dan masih diikat erat oleh hukum, kebiasaan, dan adat istiadat. Siang malam aku merenungkan, mempertimbangkan dengan hati-hati untuk bisa keluar dari moralitas dan adat istiadat di negeriku. Tapi, tradisi dunia Timur selama berabad-abad sangat kuat dan kokoh. Bisa saja aku mengobrak-abrik tradisi ini jika aku tidak terikat pada ikatan yang lain, ikatan terhadap orang-orang yang memberiku kehidupan di mana pada merekalah aku berhutang segalanya, segalanya. Tentu akan terlukalah hati mereka, jika mauku hanya memenuhi kehendak dan kerinduanku saja, meski semuanya itu sebenar-benarnya telah menjadi nafas hidupku.
    * * *
    Hhhhh, hanyalah sepenggal sebuah surat Kartini. Di hari ini, di kelahirannya. Kadang aku tak habis pikir untuk orang-orang yang memperingati hari ini. Para perempuan di kantor atau sekolahan berkebaya, memakai konde, dan berias secantik-cantiknya. Itukah harapan yang diinginkan dari semangat yang ada dalam sepenggal tulisan di atas? Tampil dari dandanan fisik?
    Semoga saja bukan hanya dari itu. Semoga semangat sebagai seorang perempuan yang hebat selalu ada walaupun tanpa kebaya ataupun konde.
    Untuk semua perempuan di Indonesia, and spesial for my lovely sister (tau nih, lagi kangen ama kakak), Selamat Hari Kartini. Semoga semangat itu selalu ada.

Taken from Surat-surat Kartini kepada Stella
Bandung, April 2007

Never to Run

    I'm young. Still wild and free. Aren't you? The sun throw me out to happiness. The moon throw me out to unhappines. Your smile that seems to me make me to get a special place. Your smile that seems to me make me down and lonely. Do you see me?
    So many words. So many things. I'm standing here. Out of the corner of my eyes. But my heart so close to say.
    New life at the time. I don't know what. I don't know why. Cause today is the only way I know.
    But friend, looks like we made it. Look how far we've come. We might took the long way. We knew we'd get there someday. And we'll wonder how we made it through. There are ways. To get there. If we care enough. There's a place in your heart. There's a place in my heart.
    Like childs just runnin wild and free. We are following through every dream and every need. Are you as good as I remember? Cause your smile make me get a special place. Make me down and lonely. My spirit only just begun. Cause we were raised to see life as a game and fun and take it if we can.
    I'm standing out of there. Do you see me? Do you love me? Heaven and hell are same. Happy and misery fill the world. Yesterday will not back. Tomorrow will never end. But today is the only way I know. Thought the cloudy so black, you know the star is always there. So let continue sing your song. Cause every sounds will make that way. And sure I'll always to hear. And I'll always there.
    But friend, in some place under the moon. There of which I stand alone. Sometimes my mind plays tricks on me. When the sun has gone, still I have a light. To the moon in the dark. Do you see me? Do you love me? But I miss you.
    Smile to me. Make me get a special place. And make me down and lonely. New life at the time. I don't know what. I don't know why. Cause today is the only way I know. The day just begun. Flow like the river. Fly like an eagle. To where they belong.

Bandung, Maret 2007

Cinta

     Valentine? Apaan nih? Hari kasih sayang. Hari cinta. Ketika banyak orang yang merayakannya. Banyak yang ikut-ikutan. Banyak yang cuek-cuek aja. Banyak yang nggak peduli. Dan banyak pula yang mencemohnya. Yach... apapun itu, sah-sah saja selama tidak mengganggu orang lain dan kita tidak melihatnya dari satu sisi. Mengartikan hari, mengartikan cinta, mencintai, ataupun dicintai. Ngomong apaan sih?
     Ehm... Klo menurut gw, mencintai adalah saat dimana kita membuat sesuatu atau seseorang itu berarti bagi kita. Apapun itu dan siapapun itu. Tidak bisa menghindar, tidak bisa menolak, perasaan itu menjadi ada. Dan ketika kita merasakan jatuh cinta, ketika itu pula bersiap untuk sakit. Karena di manapun yang namanya jatuh itu pasti rasanya sakit.
     Kalau cinta, ada yang bilang bahwa "cinta itu tak harus memiliki". Memang sih hal tersebut ada benarnya. Tapi menyakitkan banget. Bayangkan aja ketika kita mencintai seseorang tapi tak bisa memilikinya. Ambil contoh klo kita jatuh cinta ama seseorang yang kita liat di tipi, Tom Cruise atau Britney spears misalnya, tentunya susah bagi kita untuk memilikinya. Sedih bukan? Beugh... contoh yang aneh banget dan ga mengena. Dasar bodoh! Lengeh celenge...!!! Ganti!!!
     Udahlah, contoh orang kebanyakan aja deh. Misalnya kita mencintai seseorang. Yang kita tau dan udah kita kenal  pastinya (bukan artis di tipi lagi). Karena sesuatu hal, kita tidak bisa bersama mereka. Putus deh di tengah jalan. Atau nggak bisa bersama. Lingkungan tak bisa menerima. Karena perbedaan misalnya. Sosial, agama, umur, cara berpikir, de el el. Jarak yang memisahkan. Dikhianati. Ditinggalkan. Sakit...? Pasti lah ya. Namanya aja jatuh.
     Atau yang lebih parah lagi, mencintai seseorang yang tidak mencintai kita. Hahaha... Susah deh kalau yang ini, punya pujaan hati, tapi jauh di mata jauh pula di hati. Beugh... Adakah yang seperti ini? Mmm... Banyaklah tentunya, cinta bertepuk sebelah tangan. Ya udah, nikmatin aja kata-kata "cinta tak harus memiliki" itu. Hehehe...
     Yach... apapun alasannya, itu adalah hak setiap orang untuk menentukan perasaannya. Menentukan pilihannya. Mau mencintai kita, mau memiliki kita, atau tidak dua-duanya sama sekali. Itu hak mereka. Emangnya kita bisa seenaknya membuat seseorang bisa kita miliki?
     Ada yang bilang kalau "cinta itu tahi kucing rasa coklat". Bingung gw. Perasaan ga ada yang mau makan tahi kucing deh walaupun rasanya coklat. Tapi udahlah. Cuman mau mengatakan kalau kita mencintai seseorang dan orang tersebut mencintai kita juga. Apalagi semua bisa menerima. Duh... indahnya. Dunia serasa milik berdua. Bahagia bersama. I Love U dear...
     Tapi, btw, gw jadi ngelantur begini nih jadi nulis tentang cinta. Padahal mo nulis tentang valentine. Kayak jagoan banget tentang cinta. Tapi kalau hanya berpendapat itu adalah sah-sah aja, bukankah begitu teman-temanku sekalian? I Love U deh. Hehehe...
     Yach... apapun hari ini bagi kalian, gw cuman mo ngucapin Met Valentine. Maap buat yang kurang berkenan. Gw harap semoga cinta selalu ada dalam setiap langkah kita.
     Akhir kata, nggak hanya buat hari ini, tapi buat selamanya, buat semuanya, gw cuman mo bilang bahwa kita semua layak untuk mendapatkan cinta di dunia ini. So, perjuangkanlah. Hargai sepenuhnya jika diberikan. Dan yang pasti, berikan pula itu dengan setulus hati.

Jakarta, Februari 2007

Hari Ibu (Merdeka Melaksanakan Dharma)

    Kasih Ibu kepada beta
    Tak terhingga sepanjang masa
    Hanya memberi tak harap kembali
    Bagai sang surya menyinari dunia

    Bait lagu diatas hanya secarik kata-kata yang mewaliki betapa kasih ibu itu tidak akan terbayarkan sampai kapan pun. Seperti kata pepatah, "Tangan yang menghayun buaian itu adalah tangan yang bakal menggetarkan dunia..." menunjukkan betapa pentingnya tugas seorang ibu di dunia ini.
    Aku tersadar ketika terbangun di pagi ini. Ternyata hari ini adalah hari Ibu. Dan aku tahu tak banyak yang bisa kulakukan untuk memperingatinya. Apalagi untuk membalas atas kasihnya. Di pagi yang masih sunyi, hanya sekedar untuk mengingatkan kita akan pentingnya seorang ibu, kucoba untuk berbagi mengenai sejarah tentang hari ini.

    * * *

    Pada suatu waktu, tepatnya tanggal 22 - 25 Desember 1928, atas prakarsa para perempuan pejuang pergerakan kemerdekaan, diselenggarakanlah Kongres Perempuan Indonesia yang pertama di Yogyakarta. Salah satu keputusannya adalah dibentuknya organisasi federasi yang mandiri bernama Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI). Melalui PPPI terjalin kesatuan semangat juang kaum perempuan untuk secara bersama-sama kaum lelaki berjuang meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka dan berjuang bersama-sama kaum perempuan untuk meningkatkan harkat dan martabat perempuan Indonesia menjadi perempuan yang maju.
    Tahun 1935 diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia II di Jakarta. Dalam kongres tersebut dibentuk Badan Kongres Perempuan Indonesia serta menetapkan fungsi utama Perempuan Indonesia sebagai Ibu Negara yang berkewajiban menumbuhkan dan mendidik generasi baru yang lebih menyadari dan lebih tebal rasa kebangsaannya.
    Pada Kongres Perempuan III di Bandung tahun 1938, Pemerintah mengkukuhkan bahwa Hari Ibu merupakan Hari Nasional dan bukan Hari Libur. Tahun 1946, Badan tersebut menjadi Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) yang sampai saat ini masih berkiprah sesuai aspirasi dan tuntutan zaman.
    Hari Ibu oleh Bangsa Indonesia diperingati untuk menghargai jasa-jasa perempuan sebagai seorang ibu serta jasa perempuan secara menyeluruh, baik sebagai ibu dan isteri maupun sebagai warga negara. Makna Hari Ibu sebagai sebagai Hari Kebangkitan, serta persatuan dan kesatuan perjuangan kaum perempuan yang tidak terpisahkan dari kebangkitan dan perjuangan bangsa.
    Semangat perjuangan kaum perempuan Indonesia tercermin dalam lambang Hari Ibu berupa setangkai bunga melati dengan kuntumnya yang menggambarkan : kasih sayang kodrati antara ibu dan anak; kesucian, kekuatan dan pengorbanan ibu; serta kesadaran dan keikhlasan berdarma bakti dalam pembangunan bangsa dan negara Indonesia.
    Semboyan pada Lambang Hari Ibu “Merdeka Melaksanakan Dharma” mengandung arti bahwa tercapainya persamaan kedudukan dan kaum laki-laki merupakan kemitrasejajaran yang perlu diwujudkan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara demi keutuhan, kemajuan dan kedamaian bagi bangsa Indonesia.

    * * *

    Ibu... Engkau adalah pemantik api kehidupanku. Kala jurang dan kepahitan hidup menelan diriku, engkaulah satu-satunya orang yang tetap sabar mendampingiku, memberikan petuah, mencarikan jalan keluar, mendinginkan hati dan pikiranku yang kalut. Kala air mata tak terbendung menahan sesak di dada, sesak tertekan dunia ini, kata-katamu, usapan tanganmu, dan rangkulanmu segera menghapus semuanya. Senyum mulai terbentuk di bibir. Maafkan aku ibu. Selama ini aku sering menyakiti hatimu, membuatmu menangis. Jika kesempatan mengizinkan, di lubuk hati kuberjanji, suatu saat nanti akan kubalas semua kebaikan dan pengorbananmu. Semampu yang dapat kulakukan. Semampu yang bisa kuberikan. Selamat Hari Ibu. Untuk ibuku tercinta, dan ibu-ibu lain di seluruh dunia.
    Thanks Mom. For your love, for your protect, for your attention, for your guidance, and for all. I miss you. I love you.

History Taken from DPU RI - Sejarah Hari Ibu
Bandung, Desember 2006