Rabu, 13 September 2007, aku naik angkot pulang dari Kampung Bali (lokasi aktivitas utamaku selama ini). Di angkot perbincangan hangat masih sekitar Pilkada Walikota dan Wakil Kodya Bengkulu yang berlangsung kemarin, Selasa, 12 september 2007.
Isunya masih sekitar kemenangan sementara calon Ahmad Kenedi/Edison Simbolon, yang bersaing ketat dengan pasangan Chalik Efendi/Arifin Daud. Kondisi sedikit menghangat karena Chalik dan Kenedy adalah pasangan yang kini sedang berstatus sebagai Walikota dan Wakil yang sedang non aktif. Disinyalir (menurut versi umum), kemenangan Kenedy akan berbuntut dengan menyeret Chalik ke meja hijau atas kasus yang didugakan kepadanya selama ini.
...
Pukul 17.00 WIB, bibi menyuruhku menangkap ayam piaraan kami untuk lauk sahur nanti. "Tangkaplah sore ini saja, biar bisa dikerjakan nanti petang." katanya.
Aku perhatikan ayam jago yang akan kutangkap belum pulang. "Memang ayam jago ini agak bandel, sering gak pulang. Lebih baik disembelih saja." katanya pada Paman, tentang ayam yang akan kutangkap.
Pukul 18.00 WIB, kulihat ayam yang kuincar sudah mulai berjalan pulang, kugiring ia supaya masuk ke kandang dan mudah ditangkap. Ayam yang lain sudah duluan masuk.
Tiba-tiba aku lihat di beranda bibiku lari ke dalam, kalau tidak salah dengar Pamanku berteriak "Ada gempa....!!!"
Rumah di komplekku ada tiga buah saja, satu baru dibuat tapi belum dihuni sama orangnya. Tiga keluarga dengan anak-anak masih kecil, seumuran SD.
Aku belum begitu merasakan goncangan gempa.
Lalu bumi mulai bergoyang halus, lama kelamaan agak keras dan kasar getarannya. Aku melihat rumah di hadapanku juga ikut bergetar hebat. Maka mulai terasa goncangan dahsyat itu.
Tiga keluarga berlarian keluar beserta anak-anaknya masing-masing. Pamanku mendekap adikku yang terkecil, sedang bibi mendekap adikku yang tertua. Mereka bertiarap di atas tanah lapang yang kebetulan cukup luas di depan rumah kami. Aku dan abangku saja yang masih berdiri.
Satu menit, berlalu goncangan masih mengeras dan menghebat. Sayup-sayup ada mulut yang melafalkan "Allahu Akbar...!!!", seperti kompak. Mulut-mulut yang lainnya pun secara spontan menucapkan kata yang sama. Aku merinding.
Anak-anak mulai menangis di sela suara orang tua mereka yang berusaha menenangkan walau mereka sendiri kulihat sangat tidak tenang.
Aku masih berdiri, sama seperti abangku. Kulihat abangku agak cukup tenang.
Lima menit berlalu, goncangan masih terasa keras. Aku berpikir, "Inikah akhir dari semua ini? Kiamat......!!!" Tapi kutepis jauh-jauh. Mau kiamat atau tidak yang penting kita harus berusaha untuk selamat.
Tempat kami saat ini adalah tempat teraman. Rumah-rumah di sekeliling kami bergoyang sangat kentara, ada suara barang-barang berjatuhan dan mungkin pecah. Mobil yang diparkir di depan juga ikut bergerak sendiri.
Kakiku mulai gemetar, agak kaku karena menahan posisi tubuh agar tidak jatuh. Hampir sepuluh menit, goncangan sudah mulai melemah, tapi tetap dengan ayunan yang halus dan tidak biasa. Aku seperti berdiri di atas perahu besar, sangat besar dan bergoyang dengan halus di atas permukaan air. Sungguh terasa demikian.
Listrik semua padam. Aku mendengar isakan tangis ketakutan dari beberapa orang di sekitarku. Mungkin juga aku sudah juga begitu.
"Coba telepon ibu di kampung!", aku menjagakan abangku yang masih trauma dengan kejadian barusan. Yang lain seperti tersadar dan mencoba menelpon, tapi semuanya gagal.
Aku berinisiatif masuk rumah, mungkin mau sholat magrib dulu. Dengan penerangan seadanya, kutunaikan ibadah (mungkin untuk yang terbaik selama ini) ini seadanya juga. Tiba-tiba hpku bergetar tanda ada pesan masuk.
Pengirim : Gejor. "Jim, lagi di mana? Bengkulu gempa. Lu masih aman kan ne?"
Ah Gejrot, pikirku. Saudaraku, Astacala...
Segera kubalas. "Aku aman saja, kami semua aman. Tolong kabari infonya, kami hilang kontak, listrik mati."
Lalu ada jawaban "Info sementara gempa berkekuatan 7.9 SR telah terjadi. Berpusat di Bengkulu. Berpotensi tsunami. Lu ati-ati aja. Dapat dari Detik."
Masya Allah, berarti barusan sudah terjadi gempa terkuat yang pernah kualami. 7,9 SR. Segera kami berembuk. Malam ini kami tidak ada yang tidur di rumah, buat bivak di halaman.
Aku kemudian ditugaskan membeli lampu senter ke depan. Kuhidupkan motor dan memasuki jalanan utama Kota Bengkulu. Jalanan hampir macet. Sirine peringatan tsunami sudah meraung-raung menambah suasana menjadi tegang. Di persimpangan banyak polisi menjaga kondisi agar tertib.
Aku akhirnya mendapatkan lampu senter. Dari penjaga toko (yang satu-satunya masih buka) aku mendapat kabar, bahwa telah terjadi eksodus besar-besaran dari warga di pinggir pantai.
"Ini menuju ke arah Panti...."
Panti, pekikku. Itu adalah lokasi rumah kami. Berarti mereka ini semua akan menuju ke sana. Segera kuputar Honda Win-ku pulang. Ternyata, lokasi rumah kami adalah lokasi yang telah direkomendasikan untuk tempat evakuasi.
Malam ini begitu menegangkan. Tapi aku sedikit terhibur dengan adanya telepon dan sms dari orang-orang terdekatku, orang yang kucintai. Mereka semua memberikan pompaan semangat yang tidak bisa kubayangkan dalam tulisan secuil ini.
Malam kami lewatkan dengan suasana tegang, tidur tidak bisa sama sekali. Sebab gempa susulan masih sering terjadi.
Lewat tengah malam, akhirnya listrik kembali hidup. Seperti juga menimbulkan kelegaan tiada tara kepada kami semua. Sebentar lagi kami akan makan sahur, dari ayam yang kutangkap tadi.
"He... He... He... Masih mendingan makan ayam yang dimasak tergesa-gesa seperti ini daripada digoyang gempa...." seloroh pamanku yang juga memaksa kami untuk juga tersenyum.
...
Kamis, 1 Ramadhan / 14 September 2007, pagi menjelang siang ini aku mendapatkan info tambahan baru dari kawan-kawan di Jakarta. Semuanya memberitakan, membantu keterbatasan kami dalam mengakses informasi yang putus karena listrik mati.
Aku mengendarai motor berkeliling kota. Situasai sudah seperti biasa. Di Jalan Natadirja ada beberapa bangunan yang rusak berat, Masjid Babusalam, dealer Yamaha, dan beberapa ruko yang baru dibangun terlihat retak-retak hebat. Kantor Dinas Pariwisata juga terlihat atap genteng dan beberapa dinding keramiknya pecah dan berjatuhan.
Membelok ke arah kiri, di Jalan Pembangunan. Gedung Bulog rusak berat, Gedung Pajak retak-retak. Di depan, masjid terbesar di Bengkulu, kubahnya juga terlihat retak. Lurus saja aku memasuki perkantoran Gubernur. Ada beberapa tenda dari Departemen Sosial sudah berdiri, ada beberapa pengungsi yang meninggalinya. AKu juga berpapasan dengan beberapa rekan wartawan dari berbagai media, cetak dan elektronik, juga tv.
Kuteruskan perjalanku hingga mencapai warnet ini, dan kutulis kisah ini segenap kemampuan dan keterbatasanku mengingat.
Aku belum sempat ke arah pantai.
Sekian dulu.
...
Salam duka dari Bengkulu.
Jimbo.
Taken from Jimmi Piter - Gempa Besar di Bengkulu
Bengkulu, September 2007